Monthly Archives: Agustus, 2013

Puisi-puisi Koran Tempo, 18 Agustus 2013


Puisi-puisi Ardy Kresna Crenata

Sepasang Mata di Meja Mereka

malam ini adalah terakhir kalinya
ia bersama mereka, dan kami patuh melayaninya
seolah dari jarinya itu
firman akan menetas lantas getas
di putih kami. putih
kami, yang tak lagi niscaya ini.

ia menatap kami lalu berkata
entah kepada siapa di antara mereka,
“terang, akan hilang.”
dan kami harus bersusah payah menahan diri
agar tak berpendar nyala yang kami
miliki ini, yang telah sekian lama membantu kami
mengenali nyala di teduh matanya.
nyala, yang meyakinkan mereka
agar senantiasa
selalu sempurna mencintainya.

telah kami dengar dari anggur
yang diberkatinya, ia menyerah rela
menanggalkan kilaunya
untuk ia lekatkan satu per satu pada air
yang khusyuk membasuh kaki mereka.
telah juga kami dengar
dari roti yang perlahan dipecah-pecahnya itu,
mereka nyaris tak kuasa membuka mata,
enggan menyaksikan siluet gunung dan lautan
yang membentang seakan menelan
kudus tubuhnya, yang seakan menjelma
menjadi titik cahaya
di binar mata yang bukanlah lagi matanya.

kini kami saksikan mata mereka
saling menerka.
sementara merah tak lagi tabah dan segera
membuat mereka putus asa.
dan ia, seraya memulai doa, kembali
menatap kami.

barangkali ia ingin kami mengerti
betapa akan sirna tatapan itu, dan betapa
sungguh belaka doa mereka,
yang tak juga bisa menyentuh kami.

tiba-tiba kami temukan jauh di atasnya
sebuah sosok yang serupa sosoknya,
yang tak lagi menatap kami.
dan ia, di kursi itu, rupanya hampir sempurna
melepas matanya
yang perlahan mendekat ke arah kami.

Bogor, 2012

(dari sebuah lukisan karya Salvador Dali—“The Last Supper”)



Sebuah Merah

tak pernah kita mengira
akan ada sebuah merah di antara putih
yang kita pilih.
firman, berlepasan. langit serupa berita kematian
yang kita tunggu lama sejak gelap tiba.
sejak, kau tak lagi bisa membaca kata-kata
yang menetas deras dari mataku.
sejak, kita tak lagi paham
apa yang dalam tertanam pada tubuh malam
yang terbaring asing di hadapan kita.
seakan-akan: maut itu.

Bogor, 04 Juli 2013



Angka-angka Pada Tubuh Jam

angka-angka itu telah
begitu lama berdiam pada tubuh jam
mereka tak lagi tahu
apa yang terekam pada batu
atau meja kayu
atau laut yang belum juga kehilangan biru
sementara pada tanah wajahmu tertanam
dengan sepasang mata
yang berulangkali menjadi hitam
betapa hitam
dan masih lama akan terpejam

2012



Dari Tangan Ini

dari tangan ini,
biru akan menuju putih tubuhmu
memusnahkan laparnya
menyerahkan luasnya
seperti selalu akan terbayar
dahaga mereka yang sabar
akan raungmu.

Bogor, 10 Juli 2012



Salib

merah yang meninggalkanmu
itu tak lagi kembali,
dingin yang kuat mendekapmu itu
kini sempurna mengenalimu,
dan nganga, yang telah lama
mencecap mata,
barangkali tinggal sekejap saja
diam di sana
sebelum lamur ia
di tiap pasang hitam mereka.

telah diserahkan padaku
lipu tubuhmu
yang begitu mencemaskan mereka
akan lindapnya nyanyi itu
—rupa, yang
kelak setia menyanding bara.

dan sungguh, aku pun
lamat mulai menelan bayang-bayangmu
yang ternyata
amatlah menakutiku.

seolah perkasa sengat mercu
membuka pintu
pada wajahmu yang kini betapa jauh itu.

seolah tak ada lantun lagu
mampu menyaru
gerak penari di bukit yang segera mati ini.

sejenak, terasa terang
teraih darimu,
lekat terpahat, dan memekat,
di tiap
nadi
tubuh kayuku.

April, 2012



Ardy Kresna Crenata menyelesaikan studi S1 Matematika di Institut Pertanian Bogor. Kini ia tinggal di Dramaga, Bogor.

Puisi-puisi Koran Tempo, 4 Agustus 2013


Puisi-puisi Yang Ke

Di Dongguan Bersua Sejumput Sawah

Di celah jari kaki pabrik
padi yang cebol
mati-matian memeluk sejumput tanah terakhir

Jangkar akarnya
lelah menganga

Tangan yang marah dari dalam lumpur
ingin mengais keluar kicau burung suara serangga

Dari tengah hamparan sinar surya yang benderang
kulihat daun padi
membusungkan punggung

Satu demi satu batang bunga padi tumbuh meninggi
butir padi penuh bubur senyum di tengah angin musim panas
berbicara dengan diriku

Dari dalam lautan samudra yang bising dan resah
aku pilin-keringkan diri seketika
seperti sepotong putih kemeja

Kemarin tak pernah terpikir olehku
Di Dongguan
aku ternyata bersua sejumput sawah
Bunga padi hijau kekuningan
terus bergoyang di antara
sekejap gembira dan duka



Rakyat

Para buruh yang menagih gaji itu. 148 pasang telapak tangan cacat
yang menjulur keluar dari tambang batu bara Daping itu.
Li Aiye yang menjual darah tertular AIDS.
Jomblo yang menggembala domba di bukit tanah kuning.
Wanita panjang mulut yang mencolek air liur menghitung uang.
Gadis salon, pekerja sex tak berlisensi.
Pedagang kecil yang bergerilya melawan satgas pemda.
Juragan kecil yang butuh bersauna.

Mereka pekerja kantor yang bersepeda.
Mereka yang keluyuran tak punya kerja.
Mereka telanjangan di rumah bar. Kakek tua yang
nyeruput teh sembari menggoda burung.
Kaum cendekia yang membuat orang pusing tujuh keliling.
Pemabuk, penjudi, tukang angkut
penjual, petani, guru, tentara
anak juragan dan pembesar, pengemis
dokter, sekretaris (menangkap gula-gula)
yang baunya membubung itu
juga badut di kantor atau
para pemeran pembantu.

Dari jalan raya Chang’an hingga bulevar Guangzhou
musim dingin ini aku belum berjumpa dengan “Rakyat”
Hanya melihat banyak tubuh yang bicara dengan lirih dan hina
setiap hari duduk di angkutan umum
saling mencuri hangat.
Seperti uang receh yang kotor
dan penggunanya—berkerut dahi—
menyodorkan mereka ke—Masyarakat.



Perjalanan Tak Berujung

Pesawat terbang adalah burung hari ini, adalah sebuah sepatu
adalah sebuah tandu puspa yang datang dari angkasa
Dari kota N ke kota G, tiada lagi kejauhan
Yang dibilang hidup yang panjang, senantiasa
oh, seperti gaun melorot turun betapa singkatnya

Saat kau menghambur keluar dari layar monitor aula kedatangan
tak melihat CCTV yang mengintai di kegelapan
Kulihat wajahmu seperti salju muncul telanjang di tengah perbukitan
seperti belum lama ini aku melihat punggungmu sirna dari gerbang pemeriksaan
seolah-olah sekali memutar badan sudah kembali ke sini
Dini hari di depan lembar cermin kau bersisir berias
Selanjutnya sering-sering mengulang gerakan ini
“Sepertinya aku terus berada di sini, hanya meninggalkan
permukaan tanah dan kembali ke permukaan bumi.”

Kamar baru kepiting yang mondok tak menyalakan lampu
Gaun terusan yang punggungnya rapat tertutup seperti
dua daun pintu perlahan dibuka, membuat dirimu
seperti rebung yang keluar terkelupas
“Seperti apel di musim gugur.”
Yang menyambung kemarin dan hari ini, kenangan dan kenyataan
adalah sepotong ritsleting yang sempit

Hari kedua, kembali berpentas
versi kontemporer anekdot tua, kura-kura dan kelinci berlomba
siapa di antara kita yang lebih dulu mencapai tempat tujuan
Saat kendaraan umum berat perlahan berjalan
kau bagai lembar kertas putih melayang di atas kepalaku
Pesawat terbang kembali terbang melintasi atap stasiun kereta api yang rendah



Kondisi yang Ke Saat Ini

Di kedai bir menyantap sepiring steik lada hitam
kemudian memanggil taxi, kemudian
melintasi kaki lima yang berwarna-warni
Di selatan yang tak mengenal malam
menyaksikan uang menjalin fiksi cinta dengan gadis tak dikenal
separuh hatinya telah membusuk

Ada kalanya, dari setumpuk tulisan cerdik pandai yang dipanggil polisi
menjulurkan kepala
seperti seekor lalat yang nongkrong di atas sampah



Yang Ke lahir pada 1957 di Guangxi, Tiongkok, sekarang tinggal di Guangzhou. Buku puisinya, antara lain, Mosheng De Shizi Lukou (Perempatan Jalan yang Asing), Shiliu De Huoyan (Bara Api Buah Delima). Buku esainya, antara lain, Shitou Shang De Shishi (Epos di Atas Batu). Ia juga menyunting sejumlah antologi puisi mutakhir Tiongkok. Sajak-sajak di atas diterjemahkan dari Bahasa Tionghoa oleh Zhou Fuyuan.