Monthly Archives: November, 2013

Puisi-puisi Koran Tempo, 24 November 2013


Puisi-puisi Nezar Patria

Di Kartu Pos

Di kartu itu, kau gambar sebuah halte
menggigil dibungkus salju. Biru

Di dindingnya tercetak rute kosong
dan sepotong hati. Bolong

Di bangku, tak lagi ada yang ditunggu
meringkuk sebotol rindu.

Di kolongnya ada sepasang sepatu jingga
yang kau tinggalkan kemarin senja.

2013



Di Video Game

Akan tentukan siapa pecundang
dari kelebat seribu watak palsu,
para penjahat, atau pahlawan baru.

Pada konsol ada tombol ragu:
pembajak berhati salju,
atau superhero bermata satu.

Pada biru garis loading,
kode takdir berbaris dingin.

Hidup hanya sehimpun piksel,
baik dan jahat bertukar tempat,
dengan akhir tak minta dikenang.

Akan ditentukan siapa pecundang
pada suatu ruang, di mana sajak
telah dilupakan.

2013



Endgame

dan setiap kali engkau tiba di ujung kisah ini,
ia tak hendak tamat. layar terkibar lagi,

dan panggung kembali menyala.
lalu kita terpacak, sendiri-sendiri

dan lampu-lampu, tak juga hendak padam.

2013





Nezar Patria, lahir di Sigli, 5 Oktober 1970. Berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh. Bekerja sebagai wartawan di Jakarta.

Puisi Koran Tempo, 17 November 2013


Puisi Nukila Amal

Perhiasan Ratu

untuk tarian Sardono W. Kusumo

Mulanya kau lepas giwang emas
untuk setiap kuntum bunga cengkih,
kelopak pala dan semua tunas belia
yang kelak lahir di pundak gunung
Lalu kembang goyang dari rambutmu
agar bunga-bunga pulau bersabar mekar
dan penduduk mengenali sejarah angin
di sela lada perdu, serat dan serbuk sagu

Kau lepaskan tusuk konde, agar akar bahar
menajamkan pedang para ksatria perang,
menegaskan hunjam belati ke dada lawan
Kau longgarkan gelung rambut, turun bergerai
Kau potong semayang berombak—semoga riak
datang lembut menghantar kebaikan di bandar,
sebagai doa selamat untuk kapita laut dan nelayan

Lalu kau tanggalkan gelang dan kalung permata
Mutiara penawar lara setiap manusia di negeri
Manik-manik bunga karang untuk jimat perisai
Merjan merah untuk percik dan lidah api Gunung
Gamalama, semoga redam segala mala
oleh nyala pelita dan lilin toca di rumah-rumah

Kau lepaskan selendang untuk perban
Kain sutra halus untuk pelapis kafan
Satin putih licin dan pending emas
pembebat kisruh kuasa, agar tak kusut
Linen dan kain tebal, sebab hangat,
mampu menyungkup anak-anak sungai
di jazirah, urat dan nadi merah darah
kaum-kaum yang teradu—gugur, terluka
Untuk mereka, kau lapangkan pangkuan
berwangi kayu manis dan gardamun

Seakan semua berserah itu
mungkin adanya, kau percaya
Segala telah diterima, diserahkan
Tinggal sehelai kain kebaya tua
dan wajahmu, sejernih langit
malam bulan mati

Di karat tangga kapal karavel
akan lepas sauh ke bandar jauh
tak sekalipun kau berpaling
Pulau keramat di balik bahu
saat kau lepaskan milikmu
yang terakhir—nama-nama

Nyai Cili Boki Raja
Putri, permaisuri,
rainha, ibu suri
Donna Isabella

Kau bukan lagi sesiapa
Tak bernama
Hilang
Tiada





Nukila Amal menulis Cala Ibi (novel, 2003), Laluba (kumpulan cerita, 2005), dan Mirah Mini: Hidupmu, Keajaibanmu (cerita anak, 2013).