Monthly Archives: Desember, 2013

Puisi-puisi Koran Tempo, 29 Desember 2013


Puisi-puisi Dody Kristianto

Persuaan Orang Tamat

Jika aku bangun, kau pun bangun. Tapi dengan rupa apa
kau dibangkitkan? Sementara kelewang kita telah disarungkan.

Tapi berdiamlah, bergeminglah untuk hikayat kejatuhan.
Agar yang masih di darat dan tak terperangkap kegelapan
masih mengenal bau darah, adab berhadapan, atau pencak galak
menantang yang berulang berputar. Sungguh, beragam gerak seru
kini aku lupakan.

Telah tak kasat pandang semua di depan. Kau seteruku, bukan?
Tapi kau bukan yang dulu menungguku dan menyigapkan
kuda-kuda menyerang. Aku juga tak ada itikad menuntaskan.
Benarlah, telah berlaku semua gertakan macan, geliat naga,
sapuan orang samun yang karib dengan tubuh kita berdua.

Kini tinggal kutatap antariksa gimbal. Laut yang tak lebih
dari semangkuk kari basi. Lupakan saja tiga langkah ke depan.
Tidak juga harus kumentahkan semua sentakkan. Tidak ada aku
atau kau yang menyerang dulu.

Inilah hikyat panjang menyimpan hentak perlawanan.
Kereta ke negeri terbang sudah hilang dari ingatan.

Aku bukan seteru lama yang lagi harus kau seru. Sebagaimana
kau juga bukan yang dulu memampirkan sebilah parang di dadaku.
dan menggiringku ke tanah jauh.

(2013)



Pulang ke Pelukan

melintas di depan kuburan? adakah jalan pintas
lebih ringkas pulang ke pelukan?
bagaimana bila
kau yang biasa menyandang nama jawara terdepan
harus kencing di celana? tentulah kuda-kudamu
tersigap bakal ngibrit ke pojokan. lafal istigfar
mutlaklah luput diucap lidahmu yang tergagap.

benar belaka kabar. penghalang pulang sesungguhnya
hanya lubang yang mengancam ban. harus tuntas
lebih cepat kesyahduan yang selaras lagi seimbang.
harus kembali tingkah jantan pendekar pada kegicikan
dan kegentaran. sebab bila kaki sudah berdiri pada
pertengahan tanah paling lengang ini, segala ihwal sungil
selalu serupa begundal mengagetkan. benarlah, semua
gerak gelibat maupun yang merambat di hadapan
telah melebihi sajak gelap yang menimbun kata mayat.

taklah mempan dan akan mendal bila ajian
yang keluar hanya bertandang pada yang tak punya
wujud kasar. tak akan kabur dengan gertakan, batang
yang menunggu madah bangkit yang akan bersarang
di ingatannya. bukankah jurus mautmu kadaluarsa
bila dilesat untuk pocong miring atau gerandong sinting
yang gemar nyasar.

mungkin, kau harus menepikan segala perilaku pendekar
bila semua upaya tak lagi mempan. segala kitab khasiat silat
pasti tamat. alangkah melambat langkahmu nan cepat.
sepeda di tuntunan demikian berat, bukan? ia seumpama
bagal tak mau jalan. bila demikian, tentu benar belaka
kau meminta jalan pintas lebih ringkas pulang ke pelukan.

(2013)



Syair Petarung Gering

pastilah kau tak gentar terlempar pada laga paling
muram. bukan bedebah banyak lagak yang
membuat ihwal seranganmu surut. bukan pula
kompeni nyasar jalan yang bikin keliaran tingkah
kelewangmu beringsut.

pasti pula tak ciut segala silat tingkah hewan di
depan rombongan norak yang menunggu nasib sial.
sebab berpantang mundur kau dari semua hentakan
penghadang yang bergegas menebasmu, memisah
antara kepala dan badanmu.

tapi dengan angin nyungsep yang bertandang
sembarangan di badan, gelagatmu pastilah
segemetar kucing kurus dikepung hujan. silakan
saja bersiap dengan tendangan tak tertangkap
pandang.

tapi cergaslah mencegah anasir keblinger itu. telah
mahir ia menampar lambung lemah tenaga.
perkasalah dengan tohokan yang berumah di dada
lawan. jantungmu benar bakal dikageti sakal yang
berputaran. berpusinglah, mual, dan keluarkan
semua kesialan.

taklah elok tingkah demikian di depan seteru yang
mengasah gobang.

(2013)



Kepada Jawara Klimis

“Boleh saja kau nampang dengan kegarangan pendekar.
Mungkin, jerilah semua yang memandang gebrakanmu
yang membuat janda gemetar dari berdirinya.”

Tapi, bagaimanakah bila kau menghadap pada cermin di depan?
Ia yang gemar mencatat segala bayangan tentu akan menyerumu
dengan bisik menyakitkan. Bisa pula ia menjawab pertanyaanmu
perihal tampang siapa yang tergarang?

Tentunya, kau bakal terpental bukan, seolah ia mengelak
dan melancarkan satu sapuan rahasia yang berumah di dadamu.

Meski telah dikenang engkau selaku yang menaklukkan cecunguk
nyasar, benar pula mata yang memandang bahwa kau kurang
tertampak sebagai pendekar. Dengan wajah bayi nan manis, mungkin
kau mirip pelengkap pertarungan belaka. Ya, sekadar pelengkap
semenjana. Orang yang dianggap pantas sebagai pelawat, lantas berlari
bersembunyi di rerumput tinggi. Taklah salah yang demikian.

Bila begitu, tak ada guna kau menyimpan segenap kebaikan kitab.
Bergurulah pada hikayat kewingitan. Mendaraslah pada rupa
yang tertata rumpang, nyungsang, dan tak lagi disawang tampan.
Pastinya, rupa kegawatan pasti merawi tafsir muka kurang ajar.

Harus berpindah rerambut pada sekitaran wajah yang polosan. Harus
bersarang kumis tebal agar macan yang menantang merasa ia bersua
sang kembaran. Taklah bergidik demit yang bersemayam
bila yang dipandang sebatas muka klimis yang lebih wajar dicubit
dan digelitik.

Sungguh, tidak barokah bila jawara hanya memasang muka rupawan
di depan sang penantang, yang memuntir kumis dan mengelus cambang
yang memanjang.

(2013)

<br<



Dody Kristianto lahir di Surabaya, 3 April 1986. Saat ini tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.

Puisi-puisi Koran Tempo, 22 Desember 2013


Puisi-puisi Ook Nugroho

Kepada Tukang Cukurku

Mari kita bertukar tempat, sebentar
Dengan begitu mungkin lebih mudah kau pahami
Perangai maut yang kasar, datang ia
Padamu berterang atau selinap, kukira sama

Sekarang duduklah, sedang aku berdiri
Kilau pisau pada tanganku yang satu
Biar kurasai gegumpal rambutmu, mengombak
Duduklah nyaman, kini coba kau rasakan

Rapat tubuhku menempel, kemejaku lembab berbau
Sebab peluh, dari bahan citra murah belaka
Mungkin gemuruh debar jantungku sekonyong
Sempat juga kau serap, sebab semacam gairah

Serupa darah mendesir, memaksaku berpikir
Hanya diperlukan beberapa sayatan, mungkin
Satu sayatan utama pada pembuluh sentral
Kau pun terhenyak, tak teramat paham mulanya

Tidak, bahkan kau tak sempat melolong, berontak
Segalanya sudah kasip, lenganku yang satunya
Teramat kukuh bukankah, mencekikmu sungguh mudah
Sebelum mendorongnya rebah bersimpah

Maaf, jika uraianku barusan membuatmu mual
Kini baiklah aku kembali duduk, memejam diam
Dengan kilat pisau pada genggammu kukuh, ayolah
Rapikan anganku putih melebat kian liar menyemak ini



Kata Kepada Penyair 2

Kau bernapsu mengulitiku
Selapis demi selapis
Bermimpi menemukan di sebaliknya
Semacam inti atau saripati?

Makhluk malang, kini kuberitahu
Leluhur kami dulu beramsal:
Kami terlahir dari semacam perih purba
Mereka tinggal di kekosongan arti

Kalianlah para makhluk dungu
Memaksa kami hadir di batas ambigu
Kini kau ciptakan pula ini permainan
Semu tanganmu meraba yang tak ada



Kitab Kabut

Kubuka kitabmu
Halaman-halaman yang menyiksa
Sepasang mata tua ini
Huruf-huruf yang terlalu
Benderang, seakan
Menentang silau surya
Seolah kita mustilah
Bertarung lebih dahulu
Setiap kali, memperebutkan
Inti kisah yang kau sembunyikan
Di sebalik lelapis kata?

Kuhasratkan mengoyak
Bebaju zirah selubungmu itu
Meraih samar jantungmu
Ranum mengilat bebuah purba
Tapi kau tergelak gagak
Memandangiku betapa tegak
Tiada kusimpan di sini ujarmu
Jika kau impikan serupa jejak
Tapak-tapak sepi menegas
Pada luas pesisir bahasa ini

Pulang, kutulis pada pintu
Semacam salam pada halamannya
Murni bagai debar dara
Lalu kukubur kitabmu
Kukubur di bawah kakilangit kabur
Tapak-tapak yang menyiksa
Sepasang kaki tua ini
Seakan kita sepasang seteru
Kalut bergelut di alas waktu





Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Buku puisinya Hantu Kata (2010) dan Tanda-tanda yang Bimbang (2013).