Monthly Archives: Januari, 2014

Puisi-puisi Koran Tempo, 26 Januari 2014


Puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa

Sebatang Ilusi

Barangkali ia hanyalah tubuh sungai
yang tak tahu ke mana lagi harus mengalir.

Sementara sudah terlampau sering, tapal batas lamunan
sampai jadi tafsir atau sekadar hanya tersisir.

Beberapa sunyi menggelayutinya
tapi entah kapan mereka harus melepas pagut.

Sampai sebuah puisi bergerak dari kedua sisinya yang samar
hingga kita tak lagi sanggup mengakrabinya
sebagai sesuatu yang kembar.

2013


Kebun Bisa

Ditebarnya kalajengking dan ular
ke lapang tanah tak bertuan,
semoga tak ada para pejalan awam
yang tersesat ke sana.
Ditumbuhkannya mawar liar
agar terasah durinya
dan khatam mencari lubang perihnya.

Malam pulas di ruas tubuh laba-laba,
hingga terasa sejengkal petaka
akan menegurmu dalam subur lamunan.

Buah-buah hitam berjatuhan
dari dahan kesunyian,
ilalang yang terusap tangan
terasa basah bernanahan.

Hanyalah kita yang bisa berharap
menahan gaduh hujan
jadi suara merdu pada telinga,
dan memanen rona gerimis
yang tak kunjung reda
jadi senja merah pada mata.

2013



Metamorfosis

(buat Semi Ikra Anggara)

Tubuhnya masih kepompong kopong
di mana tulang-belulang
hanya bersumsum sepi.
Belum terentang tubuh sutra
saat mengibas sunyi ke udara.

Begitu rentan pada dingin
dan enggan menyentuh sehelai
benang hujan sekalipun.

Saat panggung tinggal retak dahan
dan tetabuhan di belakang layar,
cuma selabur duka berulang-ulang.
Sehimpun bunga taman kefanaan
Mencelupkan jarimu ke luka lainnya.

Kini ia membuka rekatan mimpi
di sekujur kegelisahannya.
hendak jadi binatang nabi
memohon warna hidupnya paling nisbi.

2013





Mugya Syahreza Santosa lahir pada 3 Mei 1987, dan kini tinggal di Bandung. Buku puisinya yang pertama berjudul Hikayat Pemanen Kentang (2011).

Puisi-puisi Koran Tempo, 19 Januari 2014


Puisi-puisi Alizar TAnjung

Puisi Buatan Buah Tomat

aku butuh sebuah puisi dari buah tomat. aku kupas kulit
tomat itu dengan mata pisau paling tajam, buat meyakinkanku
bahwa itu mengurangi sakit. aku iris daging tomat
yang kemerahan, melintang dari ujung ke tampuk yang
memberi hidup, bijinya aku congkel dengan ujung
mata pisau, satu persatu aku tampung dalam tempurung
kelapa tua yang telah diisi hati abu tungku.

kulit tomat aku jadikan judul puisi, empat kata kurasa cukup.
daging tomat aku jadikan isi puisi, terdiri dari dua bait,
bait satu punggung daging tomat, bait dua perut daging tomat.
biji tomat aku keringkan dalam abu tungku, aku semai,
aku tumbuhkan di belakang rumah, di bawah lindungan atap.
biji itu khusus untukmu, su.

(2013)



Batu Sungai

su, aku batu, keras luar dalam, berlumut di atasnya,
tinggal di daratan tinggi. aku kira aku si pemilik gunung,
bebas bertengkar dengan lumut, terlepas dari kedalaman
air sungai, sebab di sini sungai begitu dangkal.
pagi, siang, malam, bertemu harum lobak orang karangsadah,
aroma bawang perai orang rumah suluak, bau tomat busuk
yang tidak laku terjual.

su, kau sungai yang mengalir di air yang dalam, menggenang
dan mengalir tenang. pada kedalamanmu gerak air,
rahasia yang tidak dapat dibaca isyarat kataku, permukaanmu
sungai dareh yang menikung dan melengkung serupa ular jinak
ke abal siat.

kau bertapa dengan daratan rendah. pagi, siang, malam,
bertemu harum kelapa sawit, aroma getah karet, bau dasar
sungai yang menghanyutkan cintaku. tentu tak bertemu
batu daratan tinggi dan sungai daratan rendah, sebab itu, su,
aku bawa batuku ke sungaimu, aku yang mempertemukannya.

(2013)



Tempurung Tinggal Sebelah

bagai katak dalam tempurung, bagaimana kalau tempurung
tinggal sebelah? katak bebas keluar tempurung. sebelah
lagi telah masuk ke api di tungku, jadi bara mematangkan nasi,
jadi abu mematangkan riwayat kepulangan, tapi tidak
pernah benar-benar pulang, sebab tidak pernah lagi dia jadi
tempurung.

bagaimana dengan katak keluar tempurung? di luar tempurung
katak melompat ke air dalam, dia kira air ini dangkal, rupanya
lubuk tidak bertepi di karangsadah ini, ada lubuk sebesar biji sawi,
ada lubuk sebesar mata kentang, sama-sama tidak tampaknya
keduanya.

tinggal tempurung yang sebelah lagi, menampung sia-sia,
menelungkup percuma saja, pilihannya masuk ke ruang tungku
biar sempurna jadi api, menjelma jadi bara mematangkan
sambal, biar sempurna hidangan di meja makan. di luar
katak terkurung, seperti kata pitatah orang, terkurung hendak di luar,
coba benarlah.

(2013)



Angin yang Ditampar Daun Pipinya

kau angin yang aku tampar pipimu, tak memerah,
tak berjejak, tak sakit padamu. tamparanku lepas
ke ruang tak berbentuk. kau tertawakan aku, kau
kata aku, “daun yang tak dapat pulang ke tampuk.”

(2013)





Alizar Tanjung sedang menempuh program S2 di IAIN Imam Bonjol, Padang.