Puisi-puisi Koran Tempo, 23 Februari 2014


Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin

Dari Kenangan Li-Young Lee

Petang musim gugur terhuyung memeluk daun pintu di beranda remang apartemen tua, dua letih bertemu, senyap menatap sekincir kenangan di ranting mapel; gigil sepasang sayap gagak, pelintas perih dua benua, umpama lanun dikutuk membenci bendera apa pun.

Dari satu saku jaket ditariknya sejarik lusuh sisa gaun, hanya lesit bau sangit penyimpan jerit ribuan korban, seakan ampas sejarah terbakar ditanam di kaki nisan, di balik nonsens, denting darah dari dawai samisen dipetik awal bulan Mei sebelum rezim diruntuhkan.

Petang mengapung di sungai keruh, cuaca mengayuh derau angin, selenting desis pada urat betis terbakar adalah kenangan yang lain; kelingking kiri menyeka embun mengalir perlahan di pipi melepuh—sekelam biji mata ikan cod—di sana seorang putri merengek

teringat lengking bidadari mandi dan bujang pemburu mengintip di balik mimosa; dengus di tepian sendang, menyeret puan ke bilik sepi—menanak sebutir nyeri. Sebentar tercekat, erat-erat kaupeluk bahu putrimu sebelum berbisik: “Lupakan dongeng itu, ibumu kini

dipeluk selendang terbang malam-malam ke surga, ke mega-mega, di balik nisan itu.” Berkisar kembali, cuaca minus dia di Lincoln County, bermuka-muka dua turis
duduk di Cafe Mississippi; seorang lelaki sekutuk-sekutuk meludahi riwayat kembar dua kota.

Dihampiri kenangan ketiga, lelaki itu mulai merintih seolah sebatang pena menoreh luka di lambungnya saat awan putih memeluk bukit putih, tanpa tangis, meski sepasang tangan itu berayun menjadi bengis, menancapkan linggis ke kening bayi berparas sedih.
Setiap metafora tak lain taring, penggigit pelir anjing, gerutumu—sebelum merutuki kuntum-kuntum mapel gugur menjemput lima larik puisi gering—perlahan kauiris catfish di piring; seorang turis yang kelaparan di Kafe Mississippi, menaburi lada ke jarinya sendiri.

Begitu malam melaju, dua turis dari negeri cincin api menyurusi Fifth Avenue, masuk toko gantungan kunci; yang satu termangu menatap neon merkuri, yang lain mencekik sebotol wiski. Ah, di sini Tuhan telah pergi, jauh sekali, jauh di belakang kami, gerutumu sembari

mendorong daun pintu, derit yang menyimpan ngilu. Malam itu dua lelaki melepas satu puisi. Meski selalu kau merasa bukan pengungsi, pas tersisa satu nyeri, dibakar amuk hingga mimpi: “Tak bisa aku kembali, putriku hangus di gerai pagi.” Ia padam disiram wiski.


Slam Poetry

Di sini, seseorang telah mencipta puisi dari serbuk getah poppy. Ia mengira dirinya penyair terkutuk yang mangkir pada detik terakhir, dan terbatuk.

Di sini, seseorang mengukir dingin pada batu cincin berkilat bagai sebiji mata kucing lilin; kenangan ini menggigil dalam angin. Di sini, kepedihan tanpa kata

membangun kuil, tak lain bekas kafe yang sepi di Omaha: kota dari butiran salju. Penyair itu menyapaku sebelum gugup mengutip selarik puisi

meluncur dari sela giginya yang patah, meski cuaca nyaris tidak sedang bergairah, “Di sini, jelas tak ada revolusi, tak ada lagi,” katanya, “hanya sebait dharma

mematuk lidah Jack Kerouac.” Lalu di tepi jalan sepi ia ingat kisah seorang bapak membajak ladang jagung dengan mesin beroda; juga seorang pemuda (sendiri)

terkantuk di pokok oak, bermimpi asap selinting ganja memeluk patung ular—di Leningrad yang terbakar. “Kami membenci darah, tapi bukan sejarah,” katanya.

Lalu ia menambahkan: “Begini kami sebut slam poetry.” Di panggung mataku, seorang penyair membaca puisi, begitu lirih, memendam selaung anarki di ufuk matanya

yang sedih: “Di sini kami, tak lain, sebutir salju yang letih.”


Amsal Keluarga Bahagia

Aku menunggumu, Adikku, di tepian rawa itu
Lelehan waktu pada kalender, detik-detik biru
Tumbuh di lipatan awan, kau tak hadir di situ

Kakakku mujair, ah, kadang suka melompat
Tiba-tiba, sebuah sirkus natural, lebih cepat
Mengejar kilau sisik ungu selepas kecipak air

Datukku selalu mengalir, meski tanpa gerak
Seperti pertama stroke di puncak Mahameru
Terjaga ia melihat langit di bawah tumitnya

Ibuku elang raja terbang di bawah lebat hujan
Sekilat cahaya syamsi menukik ke sungai tawa
Ah, ia sambar tubuh kakakku dengan cakarnya

Lebih lengang tinimbang malam itulah keluarga
Bintang kejora, di kening langit, menatap bulan
Di tebing selatan: hatiku matang ditanak cuaca

Bapakku sehelai rambut kini terhidang di meja
Makan, seharian bekerja akhirnya cuma semaput
Di usus lima ekor anaknya: keluarga yang bahagia




Ahmad Yulden Erwin lahir di Tanjungkarang pada 15 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung. Saat ini ia giat sebagai dramaturge di Teater Satu, Bandarlampung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s