Monthly Archives: Juni, 2014

Puisi-puisi Koran Tempo, 22 Juni 2014


Puisi-puisi Taufik Ikram Jamil

satu

kita yang terbagi angin
semoga dapat memahami setiap penjuru
sampai saat bertemu tuju
yang satu tanpa lain
mungkin bisa saling merindu
bahkan kepada semua seteru
dapat menjadi sesuatu yang ditunggu
barangkali sekedar untuk melewati waktu
dengan tanda-tanda biru
bersubahat dalam laku bisu
yang kita tak akan mampu
menolaknya sebagai masa lalu
sehingga terasa begitu madu
untuk kemudian meluru dalam jalu
dan bagai kaku-kuku hantu keburu
menggaru pilu pada kalbu

sungguh ingin aku bersamamu
tapi takdir adalah persoalan masing-masing
datang dan pergi umpama tamu
sua dan jumpa saling merunsing



meninggalkan petang

kita segera meninggalkan petang
di ambang malam setengah jadi
begitu saja kemudian
kita membayangkan riang
berwajah tetesan-tetesan embun
dengan cadar remang
di antara menerima dan meminta
merambat dalam mata
yang meminta kepada kantuk

oleh karenanya gantungkanlah lelahmu
di dinding sabolimo merah kesumba
saat senja menutup tirai
mempersilakan bulan membuka wajah
indah oleh cahaya memancar
dengan panji-panji sejati
berkibar di tepi hari
sampai saatnya kita berbicara
tentang kenikmatan semula jadi
yang membisu dalam kesibukan kerja
pada siang yang menolak malang
bagi ketidakmampuan untuk menimbang
gamang disebabkan serba-serbi kurang
mengambang dalam bayang
sebagai peruntungan bilang terbilang
diulang-ulang sebagai bimbang
berkepanjangan di panas membahang
serta sekalian angin
serta sekalian angan
bolehlah kini terbuang
terbuang



kepak-kepak

kepak-kepak kalian akan tertinggal di hati
mengelepak ketika hujan
menyembar awan di petang yang sama
dan kita menafsirkannya sebagai riang
seperti ingatan
senantiasa molek untuk dikenang
mengawang-awang terbang
ke segenap peluang
dengan bimbang bertimbang sayang

ada saat kalian akan melayap
di puncak angin semua mendekap
dan keinginan yang terucap
akan menjadi begitu lasak
mengendap-endap di antara tampak
sebelum setiap gerak
mengenalnya sebagai siasat
kuat oleh hasrat
yang meniupnya khidmat
bercampur ragu
lambat-lambat

tapi di atas semuanya itu
adalah harapan



tak layak

aku tak layak bagi sembarang cinta
tapi aku khawatir pada kasih
yang kian menipis oleh lelah
penat yang berkhianat pada rindu
membiru lebam dalam diam
mengingatmu adalah sedih
diperbudak angan-angan
sepanjang harap dan cemas
tanpa nama
bahkan tanpa tanda
lusuh dek keraguan
yang berpura-pura sabar



pujangga hasan junus

engkau telah selesai membaca
saat huruf-huruf baru menyusun makna
kata-kata jadi terdiam
pasrah dengan maksud
yang dibawa malam ke pangkal kalimat
tinggalkan buku-buku
menunggu sepi menuturkan halaman
tersangkut di bab-bab sebagai senyap
jilid yang mengeja dirinya
kembali terkatup
dengan sehamparan debar
bertukar lembar

begitulah dengan sendirinya
tulisan-tulisan melempai
di setiap tubuhmu semampai
menuliskan dirinya sendiri
sebagai kisah yang terus bercerita
ditangkap bait tak sudah-sudah
tak cukup di pustaka
tak usai di madah

memang tak ada yang pelik darimu
sebab semua telah diterjemahkan
celik di mata terang di cahaya
waktu dan tempat tak lagi tersimbol
bahasa hanya penggoda
agar kita sadar
untuk setia menjadi manusia

maka bagaimana engkau bisa pergi
sedang tujuan telah kaucapai
kenangan berlari ke depan waktu
tanpa rindu
sebab telah bersekutu ingin dengan mau
hasrat yang menjadikannya lalu
segenap ingat adalah sukacita
dan kita menamakannya sebagai sayap
mewarnai hijau dengan seluruh ucap
janji yang menemukannya dengan harap
mengangkasa dan mendekap

di pinggir jalan sudirman itu
kita akan tetap berbagi sekeping ubi goreng
peluh di kacamatamu terburai
sambil menceritakan sartre
dan mengkhayalkan garcia marquez
tak luput tan sri lanang menulis rindu
raja ali haji kesepian di pengujan
sedang abu muhamad adnan menahan geram
kita berharap ada secangkir kopi mahfouz
dengan mantra tardji mengejek dadaisme
lalu mengelak jadi socrates
tapi kita juga bukan ibnu khaldum
pun bukan nadim penghadang todak di temasik
tapi aku mulai menyukai comte
yang engkau hadang dengan asyrakatul ahmadiah
sambil cekikan dengan kawan bergelut soeman hs

kita bayangkan ketan putih bergulai ayam
seperti padi menjadi emas wan empuk wan malini
lalu bersama raja suram kita terjun
ke dasar laut menentang untung
di penyengat amatlah penat
sebab aku jelmaan puteri puyu-puyu
dari pulau padang berlagu satu
tapi katamu bukankah thomas mann
menolak malang ke dalam palung
seperti juga tahar ben jelloun
tak memancing apa-apa ke tanah bagian

maka bagaimana engkau bisa pergi
sementara semuanya masih di sini





Taufik Ikram Jamil menetap di Pekanbaru, Riau. Buku-buku puisinya tersebab haku melayu (1995) dan tersebab aku melayu (2010).

Puisi-puisi Koran Tempo, 15 Juni 2014


Puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa

Mesin Tik

Sebenarnya ia tak memiliki wajah yang pasti.
Apalagi hanya dengan selembar kertas terkulum mulutnya
yang menjadi bekal berjaga malam ini.

Ia telah berjanji mengantar setiap kata yang pergi
meski mungin kembali pulang padanya
sekadar tinggal selongsong sepi.

Juga di kedua telinganya,
gulungan tinta itu mulai berhenti bergerak.
Sungguh sabarnya hanya sebatas knop
yang menunggu ke kanan atau ke kiri.

Saat jemari-jemari mengetuk keras tutsnya
dan ujung penanya harus menatah huruf.
Ia enggan terkesima, apalagi untuk sebuah puisi.
Hingga suara ting membuatnya siaga
pada ujung perjalanan sesaatnya
yang mulai terasa kekal di batas sepi sendiri.

2014



Cangkir Sumbing

Ia heran mengapa tak ada lagi bibir
yang mau mengecup tepiannya.

Ia telah lama mengabdi
tanpa menolak panas atau dingin air
yang akan menghuni tubuhnya.
Manis atau tawar,
berwarna atau bening.

Tak memperkenankan pada siapa
ia akan dilekatkan menuju mulutnya.
Bergincu atau polos kehitam-hitaman
tak ada beda baginya.

Basa-basi yang menghabiskannya
atau dahaga yang menandaskannya.

Tapi sungguh tersisih di sudut ruang
remang, bukan yang ia bayangkan
pula oleh sang penciptanya.
Tak ada jari yang bergairah
gemas mencengkeram cupingnya.

Dan retakan pada dirinya, mungkin
awal dari titisan ia kembali
ke haribaannya pemujanya, kelak.

2014





Mugya Syahreza Santosa, lahir 3 Mei 1987 di Cianjur, buku puisinya adalah Hikayat Pemanen Kentang (2011).