Puisi-puisi Koran Tempo, 15 Juni 2014


Puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa

Mesin Tik

Sebenarnya ia tak memiliki wajah yang pasti.
Apalagi hanya dengan selembar kertas terkulum mulutnya
yang menjadi bekal berjaga malam ini.

Ia telah berjanji mengantar setiap kata yang pergi
meski mungin kembali pulang padanya
sekadar tinggal selongsong sepi.

Juga di kedua telinganya,
gulungan tinta itu mulai berhenti bergerak.
Sungguh sabarnya hanya sebatas knop
yang menunggu ke kanan atau ke kiri.

Saat jemari-jemari mengetuk keras tutsnya
dan ujung penanya harus menatah huruf.
Ia enggan terkesima, apalagi untuk sebuah puisi.
Hingga suara ting membuatnya siaga
pada ujung perjalanan sesaatnya
yang mulai terasa kekal di batas sepi sendiri.

2014



Cangkir Sumbing

Ia heran mengapa tak ada lagi bibir
yang mau mengecup tepiannya.

Ia telah lama mengabdi
tanpa menolak panas atau dingin air
yang akan menghuni tubuhnya.
Manis atau tawar,
berwarna atau bening.

Tak memperkenankan pada siapa
ia akan dilekatkan menuju mulutnya.
Bergincu atau polos kehitam-hitaman
tak ada beda baginya.

Basa-basi yang menghabiskannya
atau dahaga yang menandaskannya.

Tapi sungguh tersisih di sudut ruang
remang, bukan yang ia bayangkan
pula oleh sang penciptanya.
Tak ada jari yang bergairah
gemas mencengkeram cupingnya.

Dan retakan pada dirinya, mungkin
awal dari titisan ia kembali
ke haribaannya pemujanya, kelak.

2014





Mugya Syahreza Santosa, lahir 3 Mei 1987 di Cianjur, buku puisinya adalah Hikayat Pemanen Kentang (2011).

One response

  1. emmm… Jujur sih biasa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s