Monthly Archives: November, 2014

Puisi-puisi Koran Tempo, 30 November 2014


Puisi-puisi Adimas Immanuel

SEPTUAGINTA

Seekor tikus hitam
menggondol sebuah kata
yang jatuh di lantai pesta.
Ia seret sekerat kemudian
dan dibawa ke sarangnya.
Ia telah lunaskan
yang tak terjemahkan.

Sebab seisi meja makan
telah penuh anggur dan mur.
Sebab kealpaan tinggal kealpaan
dan lekuk tubuh perempuan
tak lagi memikat para pemazmur.

Ia bawa serta ingatan
dan cara berbahasa kita.
Ia bangun sarangnya
di pojok gelap Sorga
yang tak tersentuh
lalu-lalang doa-doa.

2014



IMAGO MUNDI

Hanya biru laut. Hanya laut.
Siang malam kita teropong.
Hanya biru laut, hanya lembar tabut.
Bayang wajah yang terpotong.
Tiada bayang emas dan sutra.
Hanya hijau pesona selalu
berdenyut di kelopak mata.

Tapi aku tak cari pantai,
hidup sudah cukup landai.
Aku hanya menantang
Tuhan yang semayam
dalam gejolak gelombang
: cinta adalah firman yang
berangkat dari kutukan!

Hanya laut, kelebat kalut.
Kau masih tak tertempuh.
tak mungkin turunkan sauh.
Letih penjelajahan ini
akan berakhir di mana,
Jika tak tertambat
di tanjung nyawamu?

Hanya wajahmu, rupa waktu.
yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana.

2014



Adimas Immanuel lahir di Solo, 8 Juli 1991. Lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang. Kumpulan puisinya, Pelesir Mimpi (2013). Sekarang ia menetap di Jakarta.

Puisi-puisi Koran Tempo, 23 November 2014


Puisi-puisi Ni Made Purnama Sari

JALAN CILAME

Baru saja sebutir kedelai
meluncur bergulingan
Sebelum roda seorang tukang becak
Menggilasnya pecah berserak

Becak tua langganan pedagang pasar lama
Terkelupas catnya tersebab basuhan hujan garam
Juga keringat tangan para pelancong
yang tak henti menunjuk bertanya
Pada gudang begitu kumuh
Rumah berhantu separuh rubuh
Dan timbunan sampah wihara sebelah

Cilame seketika bagai museum terlupa
Ibarat pencuri sembunyi dari kejaran waktu
Menyelinap di gang-gang kecil
Menyamar tikus tanah, coro yang lemah
Atau ratap sedu seorang kuli bocah
lalai abainya disesali berkali-kali

Nanas-nanas dikupas sekenanya
Seperti kucing penuh kutu
Melompat dari keranjang ke keranjang
Menukik naik ke atap, mengincar remah ikan goreng
Lalu hinggap dalam catatan perjalanan
Sekilas tinjauan mata
Dari satu wisatawan
Atau wartawan amatiran

Seorang kakek penunggu warung
Melambai pelan padamu
Sambil menawarkan obat mujarab
Buat menghalau kepikunan usia renta

Tapi inilah Cilame sekarang
Sisa aroma kecap kedelai hitam
Yang meresap ke celah dinding
Menyusup hingga ke masa depan
Di mana tak seorang pun kuasa mengingatnya

2014



TANGAN

Tanganku, apa yang selama ini sudah kau buat?
Mengapa semua tidak bisa lagi kau ingat?

Mari ke sini, kita baca buku lagi
Berhentilah membuat puisi tentang maut
Percayalah kita akhirnya akan abadi

Kenangkanlah genggam lembut jari kekasih
Yang membuatmu tak henti mengirimkan surat-surat
Sajak-sajak dan pesan-pesan. Kau kirimkan padanya.
Seolah kau lebih cinta padanya. Daripada yang kutahu

Lebih liar, tanganku. Bikinlah sesuatu yang lebih liar
Dari bulan musim gugur. Dari cermin hilang bayang
Buatlah aku takut oleh fantasimu
Mengayun bersama malam. Melampaui mimpi demi mimpi

Mengapa kau cemas pada guratan nasib buruk
Nujuman penyihir tua sebuah sirkus waktu silam
Tidakkah kau lebih percaya padaku
Bahwa itu ramalan biasa, pelipur bagi mereka
yang kepingin mencuri masa depan

Tanganku, jangan kau abai dan ingkari aku
Kalau kau mati, aku tak mau
Aku tak siap kehilanganmu

2014





Ni Made Purnama Sari lahir di Klungkung, 22 Maret 1989. Mendirikan Komunitas Sahaja di Bali. Kini ia menempuh Program S-2 di Magister Manajemen Pembangunan Sosial, FISIP, Universitas Indonesia. Buku puisinya adalah Bali-Borneo (2014).