Puisi-puisi Koran Tempo edisi 29 Maret 2015


Puisi-puisi Esha Tegar Putra

CUKUR RAMBUT

Telah aku cukur segala rambut dari kepala hingga pangkal paha. Agar hari datang tidak lagi seperti kucing bermuka buruk dan agar hari pergi tidak lagi serasa paku ditarik pada batok kepalaku. Dan kini di atas panggung sapi berjanggut aku mulai duduk membaca kitab, mengatamkan hikayat meluruskan cara membangun kalimat dari reruntuhan kata yang selalu pandai berkhianat. Kata yang memisahkan telapak kuda dari tungkainya, yang telah menukar letak pantat dan kepala keledai, yang menyusun rasi bintang berbentuk orang mengangkang, dan membuat kematian paling indah agar pantas digelaktawakan.

Di atas punggung sapi berjanggut aku duduk dan kini telah kutuntaskan kitab tentang orang alim orang keramat berlari di atas danau dengan pangkal jubah tak sedikitpun basah. Kukhatamkan hikayat tentang kampung ditenggelamkan semalam hujan dan kapal terbakar di tengah lautan dalam. Lantas kutulis sebaris sajak tentang orang pandir berlari telanjang bulat sehabis kalah bertaruh judi dadu. Kutulis sajak ketika sapi berjanggut menggetarkan gelambir perut dengan lidah terus melipir. Sehabis-habis suara kuteriakkan nazam tentang cinta terlarang seorang saudagar kain dengan perempuan penjual gambir. Telah aku cukur segala rambut dari kepala hingga pangkal paha. Agar seketika kutunggangi sapi berjanggut segala bentuk kepandiran telah lebih dulu kubuat terenggut.

2015



TIAR PERCAYA ORKES ITU

Tiar percaya orkes itu telah menyelamatkannya
dari jangkau nasib buruk
dan beragam marabahaya.

Denging samar sumbing
malam dengan panggung miring
terpal biru robek meneteskan sisa air hujan sore
pertunjukan terus disusun
hari demi hari
dari keping montase.

Tiar percaya orkes itu telah menyelamatkannya
seperti ia percaya sebuah susunan notasi
akan kekal selamanya
mengendap bersama nasib

selagi ingatan lurus
selagi lempengan kenangan tersusun bagus.

Dan Tiar akan terus memainkan lagu
seperti itu
seperti malam itu
malam dengan panggung miring
terpal biru robek meneteskan air sisa hujan sore
terus seperti itu
seperti malam itu
ketika angin tak ubahnya serakan pasir dingin
maut berayun-ayun bersama alun
musik kering mengerisik
penonton bersorak memulangkan bangunan suara
dan remang lampu mempermainkan ruang mata.

Tiar percaya
selagi ia memainkan lagu
seperti itu
seperti malam itu
orkes akan selalu menyelamatkannya.

2015



SARINAH

Pada pangkal ketiakmu aku temukan kota mengerut serupa kulit limau purut, Sarinah. Plaza empat puluh tingkat berarsitektur paruh unggas berdiri tegas. Pohon-pohon tumbuh hitam dengan daun tertabur serbuk garam. Kota dengan daratan tiap sebentar turun dikepung air naik ketika gerak gelombang ditarik bulan datang. Kota dengan dinding kedai kopi, kedai nasi, hingga kedai lemang memajang potret orang tua alim lagi bertuah buat menarik orang datang membeli barang. “Belikan kutang, uda. Sehelai kutang baru dengan ragi kain sematang daging mengkudu.”

Dan bengkak dadamu itu serupa tandan kelapa muda dibuai-buai angin limbubu. Puncak sebuah malam dengan tembakan laser gagal membikin bubar iringan awan menggumpal. Getar dadamu itu hasrat purba kuda jantan disiarkan gelombang radio ke arah dusun paling dusun. Aku temukan kota, Sarinah, dari pangkal ketiak hingga bengkak dadamu mengerut serupa seulas papan berulang terapung dan terbenam dipiuh deras arus muara. “Jangankan sehelai kutang, Sarinah. Di langit akan kuputus gantungan bulan, di laut akan kusauk gulungan gelombang, agar kutang seisi kedai itu kau bungkus kau bawa pulang!”

Leher panjangmu itu membuatku berdiri tegak meneropong kota dari ketinggian. Aku melihat kaum penggila emas penggila suasa memberi nama-nama asing untuk setiap gundukan tanah pasir terungguk, serta batu-batu terserak. Kaum dengan kegemaran memandangi air tergenang. Mereka berhimpun dimana ada air tergenang merencanakan siasat bercinta paling gila sambil mengudap goreng pisang raja. Segala padamu adalah takdir dari kota ini, Sarinah. Kota dengan sepasang patung bengkuang gadang terjepit kerampang ditegakkan di gerbang kedatangan dan gerbang kepergian. “Kulit dalam bajuku mengerut, uda, kutang baru dengan lingkaran logam pelancar aliran darah dan pengencang kulit dijual murah di kedai sebelah.”

2015



SYEH BATU

Dari Langkat ke Suliki, dari Lahat hingga Senggigi
ia kuak batu ke dalaman kubangan babi
ia cukil batu sampai ke pangkal sungai mati
ia korek batu hingga lubang-lubang di tebing tinggi.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun
sampai ditemukan getah kelenjar buah-buah gajah, sulur
ganggang hitam dan akar lumut biru, daging limau sirah
hingga bulu kuduk sulaiman mengeras diperam mineral
bumi, maka ia percaya hidup dan mati tak lebih dari
menggali dan mengimani batu, batu, dan batu!

Dari Sungai Dareh ke Nareh, dari Gunung Omeh hingga Taeh
dalam duduk dalam berdiri ia mulai mendaras sebuah kitab
tafsir geologi setebal lima senti. Ia membuka dan menutup
kitabnya dengan mengutip pangkal pikiran seorang juru tunjuk
batu dari Banyuwangi: “Kita tak pernah bisa pergi ke kedalaman
bumi kecuali hanya melalui tafsir.”

Dari Mukomuko ke Sumedang, dari Lokulo hingga Enrekang
ia terus menggali batu dan menafsir bumi dengan cara sendiri.

2015





Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Kumpulan puisi terbarunya Dalam Lipatan Kain (Katabergerak, 2015).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s