Puisi-puisi Koran Tempo edisi 21 Juni 2015


Puisi-puisi Kiki Sulistyo

Kelampan Penenun

sebelum kau ayunkan bebiremu, sangkutkan dulu benang itu
pada bawang kesune, beras hibah pemerintah, dan lumut di telabah

kaudengar biji padi memimpikanmu malam tadi
waktu tekong berkunjung dengan tangan kosong
mengangkut para janda ke seberang dan menjadikan
mereka bahan gunjing janda-janda lain yang hilang kesempatan

sementara lelaki mencuci tangan dalam akad pernikahan
kau tamatkan satu bagian dari kain yang kelak lusuh di pajangan
nyanyikan tembang moyang, tembang gugur mayang
lelaki akan kembali, dengan tangan telah disucikan
berhak memutus benang, yang di tubuhmu halus berkilauan

(Bakarti, 2015)



Kelampan Tenun Pesanan

benang marun benang serat daun, kelampan jauh
tak dapat ditempuh kecuali dengan menebus seluruh perhitungan
pada kerutan kain timang

di bawah batang srikaya, bunyi ketukan menimbang langgam
bilamana benang tersusun simpang-menyimpang

ini pesanan seorang tebon, suaminya raden tanpa blangkon
seolah mau berkata: raden hanya gelar pemberian
jin gunung Rinjani, lewat mulut juru kunci yang mabuk ketan merah

tapi mereka akan marah apabila kita dedah semua sejarah
lantas serapah dilepas bagai ribuan anak panah

hanya lewat tangan yang cekatan memisah benang
dapat kita lihat bagaimana pikiran liar dihapuskan
tinggal garis-garis lurus, timbul tenggelam di tengah bidang
bagai keinginan berkisah yang tertahan tembok rumah

(Bakarti-Pagesangan, 2015)



Penata Peniti

: Hanafi

aku letakkan peniti di antara yang tertutup dan belum tertatap

bukankah ia jembatan yang membuka jalan
atau jemputan yang mengarah pada tujuan

aku melihat caraku melihat
aku dengar mesin jahit
melubangi suara-suara jahat dari luar
menemui benang dan bakal pakaian, menuliskan ingatan
di dinding-dinding muram

aku mau kalian meniti lengkung berujung tajam ini
agar asin darah dari jari jadi abadi di merah lidah

(Bakarti, 2015)



Paras Beras

: Hanafi

di bawah lampu, kupu-kupu, patah putih sayapnya
jadi butir beras, berandal lepas dari anai
dan tenteram dalam kenang-kenangan
sebentuk lubang yang disembunyikan paman di tengah ladang

serbuk yang kupu-kupu
diberkati di Bakarti
tempat tinggalku, tempat aku menanggalkan pakaian penyair
lantaran anyir air tak bisa dijernihkan kata, tak bisa
dibersihkan bunyi yang keluar dari puing-puing puisi

pada paras beras itu
orang mencangkul sawah, mencungkil batu basah
memanjangkan bayangan paman yang berdiri sendirian
di tepi lubang, di tengah keluasan ladang

(Bakarti, 2015)



Menatap Irisan Garis

: Hanafi

bila tanah tak cukup pantas aku akan berkubur di dalam kanvas
mengalami garis dan bidang, menghuni kekosongan ruang
tak ada pidato, tak ada nina bobo, hanya percik dan pelik akrilik

menghidupkan kayu tua yang lama mati
dan seekor unggas biru di atasnya berusaha berdiri

(Bakarti, 2015)



Penyamaran Busana

: Auguste Soesastro

tubuh tumbuh dengan caranya sendiri
karenanya tak kubuat garis di lengan ini
cuma bagian lurus dan tembus melewati
tangan di bawah bayangan benang

benang yang tenang menyamar dalam pakaian
telah ia saksikan serat-serat rontok
di butik-butik New York, dan bau batik malam
di rumah-rumah Pekalongan

lalu ia ulur benang leluhur untuk mencari pangkal
bagaimana orang dulu mengukur potongan
agar upah tak dipangkas lantaran gagal menyusun bakal
dan putih kupu-kupu tak mau hinggap di baju

selalu ada lengang pada bayang-bayang lipatan
cap biru seperti bulu unggas di atas kayu
juga ingatan, ingatan yang pelik dan selalu mengusik
bagai bunyi waktu di balik derit mesin jahit

kenangan tumbuh dengan caranya sendiri
karenanya kututup mata dengan perca
kutatap suara-suara yang lepas dari kanvas
kudengar garis-garis ganjil memanggil…

(Bakarti, 2015)





Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok. Buku puisinya yang terbaru adalah Penangkar Bekisar (2015). Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s