Category Archives: Adimas Immanuel

Puisi-puisi Koran Tempo, 30 November 2014


Puisi-puisi Adimas Immanuel

SEPTUAGINTA

Seekor tikus hitam
menggondol sebuah kata
yang jatuh di lantai pesta.
Ia seret sekerat kemudian
dan dibawa ke sarangnya.
Ia telah lunaskan
yang tak terjemahkan.

Sebab seisi meja makan
telah penuh anggur dan mur.
Sebab kealpaan tinggal kealpaan
dan lekuk tubuh perempuan
tak lagi memikat para pemazmur.

Ia bawa serta ingatan
dan cara berbahasa kita.
Ia bangun sarangnya
di pojok gelap Sorga
yang tak tersentuh
lalu-lalang doa-doa.

2014



IMAGO MUNDI

Hanya biru laut. Hanya laut.
Siang malam kita teropong.
Hanya biru laut, hanya lembar tabut.
Bayang wajah yang terpotong.
Tiada bayang emas dan sutra.
Hanya hijau pesona selalu
berdenyut di kelopak mata.

Tapi aku tak cari pantai,
hidup sudah cukup landai.
Aku hanya menantang
Tuhan yang semayam
dalam gejolak gelombang
: cinta adalah firman yang
berangkat dari kutukan!

Hanya laut, kelebat kalut.
Kau masih tak tertempuh.
tak mungkin turunkan sauh.
Letih penjelajahan ini
akan berakhir di mana,
Jika tak tertambat
di tanjung nyawamu?

Hanya wajahmu, rupa waktu.
yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana.

2014



Adimas Immanuel lahir di Solo, 8 Juli 1991. Lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang. Kumpulan puisinya, Pelesir Mimpi (2013). Sekarang ia menetap di Jakarta.

Puisi-puisi Koran Tempo, 24 Agustus 2014


Puisi-puisi Adimas Immanuel

BEBERAPA PERTANYAAN
UNTUK TUKANG KAYU

Bagaimana cara memilih
pohon yang kayunya kuat?
tanyamu pada mulanya.

Dengan mendengar denyut
dalam akarnya, jawabku.

Bagaimana cara mendengar
denyut akarnya? tanyamu.

Dengan mengajak bicara
daun-daunnya, jawabku.

Bagaimana cara berbicara
dengan daun-daun? tanyamu.

Dengan merasakan sentuhan
angin di kulit, jawabku.

Bagaimana cara merasakan
sentuhan angin? tanyamu.

Ketika kau memutuskan
menebang tanpa kapak.

Bagaimana mungkin seorang
tukang kayu bisa menebang
tanpa mengayun kapak?

sejak matamu berayun
dan merobohkanku,
jawabku pada akhirnya.

(Jakarta, 2014)



DATANG

Sebentar lagi ia datang
menggandeng turun bulan,

meninggalkan dunia benderang
yang membekas di pelipis.

Dari dua tangkup tangan
yang tak saling tangkap
dan memilih melipat jari,

kebenaran harus dibelah
meski selubungnya bergetah,

sebab dunia hanya mengajarkan
cara menyayat dan mengiris.

Sebentar lagi ia datang,
setelah kita melihat,
secercah damai itu:

malaikat yang bertandang
ke dalam sepasang matamu
ketika subuh dan petang.

(2014)



TAWANAN

Kau tampak menawan
karena aku lebih dulu
menyerahkan diri.

(Yogyakarta, 2013)





Adimas Immanuel lahir di Solo, 8 Juli 1991. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Ia tinggal di Semarang.