Category Archives: Adri Sandra

Puisi-puisi Koran Tempo, 3 November 2013


Puisi-puisi Adri Sandra

Hepta, Ai Ti

seperti gunung yang menyala, api itu menjalar
memasuki tanah dan membakar seluruh akar
“tak ada tunas yang akan tumbuh, hanya abu
gunung itu hanyalah timbunan tanah dan debu!”

dari langit, cucuran air mata yang berasal dari atap
menetesi gunung itu, orang-orang memandang dari jauh
“bukankah itu air dari mata Bundo Kanduang dan Dang Tuangku?
di manakah Anggun Nan Tongga, Gondan Gondoriah
karena kabut amat tebal, hanya setitik bayangan, mungkin Intan Korong
dijaga puluhan malaikat dan para jongos angkasa?”
suara itu melata di permukaan cakrawala
menjalar lamban ketika hujan tetap berguguran

ketika api mati, pemandangan itu jadi gundul
orang-orang mendaki, kaki-kakinya terbenam dalam abu
“angin, datanglah! para pemuja itu hampir tiba!”
suara itu turun ke bumi, dan alam menggigil dingin
saat angin menyapu menerbangkan abu itu
ke balik benua, tempat tumpukan debu
“Nan Tongga! suara itu, suara Nan Tongga!”
Gunung Ledang terpaku, ketika hikayat mulai tumbuh
jadi rumput dan lalang

tapi api itu hidup lagi, menjalar dari Suryakanta
di langit bayangan-bayangan itu berjalan beriring
orang-orang memandang dari jauh
“itu Cindua Mato!”
“itu Puti Bungsu!”
“itu Imbang Jayo!”
kembali Bundo Kanduang dan Dang Tuangku meneteskan air dari mata mereka
Bukit Tambun Tulang, abu itu dibawa air, jadi sungai, berliku-liku
memasuki lembah-lembah sunyi, ke muara tak bertepi

antara Gunung Ledang dan Bukti Tambun Tulang, awan mengapung
senja dan kilau berpisah, awan yang berpecah jadi dua arah
bergulung-gulung ke malam hampir tiba
awan yang berkibar jadi pakaian raja dan hulubalang
jadi pakaian Bundo Kanduang dan Inang-Inang
pakaian itu jatuh di dua gundukan tanah, orang-orang berebut dan memakainya
“akulah Anggun Nan Tongga!”
“akulah Gondan Gondoriah!”
“akulah Intan Korong!”
“akulah Bundo Kanduang!”
“akulah Cinduo Mato!”
“akulah Imbang Jayo!”
cerita itu mereka rangkai dari pertautan musim hujan dan panas
menambatkan Binuang, Gumarang dan Kinantan
di tonggak-tonggak baru perumahan

hepta, ai ti, mereka melingkar
hepta, ai ti, mereka berdendang
hepta, ai ti, mereka mengembara
mengikuti alur hikayat dan kaba
berandai-andai dan dunia itu pun tumbuh jadi Randai
di bubungan gonjong-gonjong Rumah Gadang hampir rata dengan tanah

hepta, ai ti! hepta, ai ti! hepta, ai ti! hepta, ai ti!
seperti ada gajah mendorong, empat langkah berirama
hepta, ai ti! hepta, ai ti! hepta, ai ti!
seperti ada harimau tiarap, tiga langkah di sepit kala
hepta, ai ti! hepta, ai ti!
serasa ada yang tinggal, di dua gundukan tanah menjulang
hepta, ai ti!
tinggal bayang-bayang
mengukur zaman yang pincang

hep
ta
ai
ti
suara-suara itu
jadi pertarungan dalam negeri
jauh dari irama Saluang dan Bansi

(Ujung Tanjung, 2013)



Kabar Kaba

aku mendengar suaramu
dalam kokok ayam hutan
di rimba tak kukenal
tajimu engkau tanggalkan

dan engkau terkubur, begitu lama
dalam daging sendiri
tanpa napas, tak pernah mati

kini aku menggali-gali dagingmu
semakin dalam; harum bau kesturi
tersandar di dinding hari yang wangi

dalam luas dagingmu, ada danau
angin menghela riak
langkah menjala jarak

“mandilah dalam danauku
saat bayang bulan membujur putih
menghisap pecahan buih!”

suaramu melandai sunyi
timbul tenggelam di riap hijau pohonan
seekor ayam hutan
mencuri tajimu

(Ujung Tanjung, 2013)



Pencari Jembatan

ke manakah ia, selalu saja ia menatap sungai
setiap buih yang menggelembung, setiap yang hanyut terapung
seperti ada yang menunggu di seberang, mungkin harapan atau juga hujan
“tak satu pun kutemui jembatan, dari setiap sungai mengalir ke lautan!”
matanya melindas pemandangan, berjalan dalam hangus daun-daunan

“engkau lihatkah hujan di seberang?” mulutnya mengulum suara sendiri
ia mengipas kemarau yang membaluti tubuhnya, menampung keringat
tetes di bumbung darah dan hati, “panas sekali negeri ini!”
dan angin ia lihat bersandar di dinding hujan, jauh sekali
angin yang tak pernah mengunjungi negerinya, selain matahari dan
titik-titik api

pencari jembatan itu mengembara begitu lama
mengendap dalam buih kemarau, malam membujuri dada kilau
suatu saat; ia melihat orang-orang berdiskusi, saling lembar tanya
melontarkan beragam argumentasi
suara-suara itu menetas dan besar, menjadi burung-burung bangkai
mengelilingi tempat ia berdiri, mencium asin keringat
berbinar dalam darahnya hangat

ia memandang dari jendela negerinya, seluruhnya tinggal abu dan rangka
dan ia kembali berjalan, mengembara; jauh dari cuaca dan udara
burung-burung itu mengikutinya, mematuki seluruh daging tubuhnya
ia berjalan dengan tulang-tulangnya, seperti kerangka
mencari napas dan nyawa

(Ujung Tanjung, 2013)





Adri Sandra lahir di Padang Japang, Payakumbuh, 10 Juni 1964. Buku-buku puisinya adalah Luka Pisau (2007) dan Cermin Cembung (2012).