Category Archives: Ardy Kresna Crenata

Puisi-puisi Koran Tempo, 1 Juni 2014


Puisi-puisi Ardy Kresna Crenata

Sehabis Persetubuhan

dan aku mendapati tanganku tertanam dalam tubuhmu, dan seperti baru saja mengakhiri sebuah persetubuhan lain dan punggungmu yang lapang. dan punggungmu yang lapang. aku pun mulai menariknya, perlahan-lahan, sebab aku enggan membangunkanmu ketika wujudku belum sempurna ketika wajah-mataku belum seperti pagi yang suci dan baumu yang rakus. dan baumu yang rakus. dan baumu yang rakus itu yang seperti tengah berusaha mengisapku melahapku menelanku dan putihmu yang hangat. dan putihmu yang hangat. kujauhkan tanganku itu, dan seketika aku melihat sebuah rongga pada tubuhmu itu dan jarum yang berhenti dan dosa yang mati. dan dosa yang mati. aku menemukan di rongga itu sebuah kehidupan telah jadi, di mana orang-orang saling menemukan dan meninggalkan, di mana waktu berulang kali mati dan hidup lagi, dan kita seperti sepasang tuhan yang merasa asing dengan semua itu, dan enggan membuat mereka di sana mengerti betapa teramat belaka hidup mereka. dan aku mencium lehermu. lehermu yang seperti sebuah lengang jalan dengan mobil-mobil yang menghilang dan suaramu yang parau. dan suaramu yang parau. dan aku pun mencium bibirmu, dan engkau seperti lekas bangkit dan melesakkan bola matamu menujuku, hingga aku seperti terpaksa memejamkan mata dan membiarkan diriku terluka dan lidahmu yang asin dan bisamu yang dingin. dan bisamu yang dingin. dan tanganku pada celah kudus di antara payudaramu, yang seperti engkau biarkan membuat rongga lain di sana. dan tanganku yang lain pada punggungmu yang lapang, yang seperti perlahan-lahan menghancurkan kehidupan yang telah jadi itu dan hangatmu yang cepat dan dengusmu yang lambat. dan dengusmu yang lambat. dan kita tetap seperti itu seolah-olah tak tahu bahwa pagi telah berlalu dan terang siang telah mengirim sebagian dirinya ke kamar ini dan farjimu yang merah dan dagingku yang rekah. dan dagingku yang rekah. dan sepasang malam yang tersisa di setiap kita, yang seperti tengah membuat sebilah sayap yang tak akan mampu menerbangkan kita—sampai kapan pun.

(2014)



Hidangan

belum seorang pun merelakan tangannya
terjebak di sana. tiga butir telur. tiga warna langit.
di sebuah tubuh sebuah lorong
menganga dan sebongkah memar menguar darinya.
tiga butir telur. tiga wajah hancur. sesuatu yang tak pernah kita tahu
bersusah-payah mengabaikan keterasingannya
keterbuangannya keterasingannya keterbuangannya keterasingannya.
tiga butir telur. tiga mimpi lamur. sebuah tali menggantung
dari langit yang pahit
dari ujung yang jauh yang seperti memanggil-manggil seseorang
yang entah siapa yang entah seperti apa yang entah serupa apa.
tiga butir telur. tiga putih kabur. sesuatu terkait
seperti jam pada malam ketika dingin menghitam
ketika terang mengusam dan cahaya-cahaya lekas padam.
tiga butir telur. tiga luka sabur. aku berulang kali melukis matamu
pada langit itu pada tubuh itu pada piring itu
pada kanvas itu pada wajah itu pada taring itu pada kuning itu
pada biru itu pada hijau itu pada celah itu
pada gelap itu pada terang itu pada diriku yang kutahu
dan yang tak kutahu dan yang kubenci dan yang tak kubenci.
tiga butir telur. tiga doa lebur.
dan kita masih saja berusaha membaca tanda
yang lama tertinggal di sebuah entah.
di sebuah entah.

(Bogor, 20 Februari 2014)

Dari sebuah lukisan karya Salvador Dali—“Eggs on The Plate Without The Plate”.





Ardy Kresna Crenata lahir di Bojongpicung, Cianjur, dan kini tinggal di Dramaga, Bogor.

Puisi-puisi Koran Tempo, 5 Januari 2014


Puisi-puisi Ardy Kresna Crenata

Injil Yudas, 1

bila kau menemukan sepenggal
wajah serupa wajahmu
hendaklah kau curiga ia akan semata menyandingimu

aku telah berkali-kali tertahan di sana
saat hendak menuliskan namamu yang suci itu
barangkali, sebab aku
tak menganggapnya suci, tak seperti para penirumu
yang kerap berkata
akan memancar terang darimu
akan terhapus nama-nama mereka
yang kelak akan menjadi bayang-bayangku
juga bayang-bayangmu
di hari engkau
tak lagi bisa
memberi kami wajahmu
meski mereka, membikin biru hitam matanya
dan aku, gegas menjemputmu
namun tersesat
sekian lama

2013



Injil Yudas, 2

beberapa kali aku hendak menanggalkan bayanganku
sebab aku terlalu suci, terlalu putih untuk hitam mata mereka

tapi kau berkata bahwa wajahku adalah milikku
dan pagi terlalu biru untuk sebentang cermin di mana tertahan tubuhmu

aku tak melihatmu di sana, jujur saja
dan kukira segelas air jauh lebih mahir

menjadikan sabda-sabdamu sempurna di lidah mereka
sebab anggur telah hanya pemuas bibir

namun barangkali, seperti kita yang harus tunduk pada nubuat
seperti tangan hari yang harus mengusam dan berkarat

aku tak bisa untuk tak menyerah kepada saat
aku memujamu lewat kematianmu yang penuh nikmat

2013



Injil Yudas, 3

sekali saja ia ingin menjelma menjadi diriku
matanya terlampau hitam dan suaranya seperti arang
ia menuliskan pada lidahnya
beberapa mantra tentang tubuh tuhan
tentang kegelapan
dan pagi pertama setelah maut dipahatkan

ada di sana, tanganku, ujarnya
sebelas kali ia mengulang apa yang dilakukannya
ketika dilihatnya
aku memecah-mecah roti menjadi terlampau banyak
sebelas kali ia mengulang apa yang dilakukannya
ketika dilihatnya
aku berjalan-jalan pelan di atas air

ia satu-satunya yang kelak memikul salibku
sebelum maut menolakku
sebelum para peniruku mendatangi batu
ia satu-satunya yang kelak akan memecah-mecah sabdaku
dan menyantapnya seorang diri, di kamarnya, dalam dirinya

sekali saja ia ingin menjelma menjadi diriku
ia bilang wajahku terlalu biru
dan ia ingin aku menghadiahinya sebagian tanganku

maka pada suatu malam aku memanggilnya
matanya menikam bulan dan ia tak menyadarinya
kulepaskan diriku dariku
dan kulihat lambat-laun tubuhnya
kian serupa dengan tubuhku

2013



Angka-angka pada Tubuh Jam, 2

satu per satu, saat maut tak lagi menjadi bayang-bayang
saat seekor ngengat dan seekor lalat telah semata tubuh yang kaku
angka-angka itu, berlepasan. mereka berlepasan
seperti hendak melarikan diri. mereka berlepasan seperti melarikan diri
dari bayangannya sendiri. hitam. atau mungkin hijau. mereka
tak lagi paham apa warna darah, atau tubuh yang terjarah.
mereka menjadi takut pada jarum jam yang kian lama kian menggilapkan mereka
seakan-akan, pada titik tertentu,
jarum jam itu akan memanggil mereka kembali
dan memaksa mereka berhenti. “lihat. kalian semata tubuh yang tak tahu
kalian bahkan tak mengerti mengapa laut masih menyimpan biru
dan mengapa pantai betapa bisu.”
dan memang, mereka menjadi ragu.
saat maut perlahan-lahan kembali menjadi bayang-bayang
mata mereka menjadi hina
tak mampu mereka menyaksikan
tubuh-tubuh yang terlontar jauh dari tubuh jam
tubuh-tubuh yang tak mereka kenali
yang tak pernah mereka ketahui bahkan dalam mimpi-igau mereka
hitam, atau mungkin hijau
mereka tak lagi mengenali warna mereka sendiri

Bogor, Oktober 2013

(dari sebuah lukisan karya Salvador Dali–Soft Watch at The First Moment of Explosion)



Torso

sudah begitu lama rupanya aku melepasmu.
kini, saat kau berdiri tepat di pekat bayangku,
tak lagi kucium amis laut
yang kerap menguap dari dirimu
menjelma tubuh yang tak juga usai mencerapkan
kesunyiannya, di mataku.

aku terpana, sekaligus juga bertanya-tanya,
bagaimana sampai camar itu
sedia mengantarkanmu ke hadapanku ini, mereka
yang tak pernah sama sekali membaca
sengat mercu pada kapal yang singgah-lalu.
juga bagaimana
kekosonganmu yang selalu saja
menggilapkanku itu,
mampu tersaru di antara debur ombak
dan kenangan, yang hancur tersabur pada karang,
tempat aku kini menatapmu.

kau muncul di hadapanku, setelah sekian lama,
sebagai tepi yang meminta api
dari tungku yang bersembunyi jauh di dalam
diriku. mata angin, yang
mengabarkan rahasianya pada si pendusta.

kau muncul, di hadapanku, sebagai
diri yang tak kukenali
namun piawai membuatku abai
pada segala
yang tampak betapa fana itu.

sedang aku, seumpama layar yang tak
berkibar, maut yang tak patut
bersanding sempurna dengan sirine, tak kuasa
melakukan apa
selain membuka tubuh
untuk dengan tabah kau masuki.

sebab meski garis masih tersisa
memisahkan laut dari langit,
di mana darinya jingga akan menyoroti kita
merapal kata
yang tak akan pernah jadi doa,
tetap saja,
tak ada beda.

jejakmu di tubuhku, biarlah begitu.

dan mereka yang kelak
datang menujuku
hanya akan menemu waktu, yang
tercatat pada batu.

Bogor, April 2012





Ardy Kresna Crenata bermukim di Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.