Category Archives: Dedy Tri Riyadi

Puisi-puisi Koran Tempo, 28 September 2014


Puisi-puisi Dedy Tri Riyadi

AKU AKAN MENGKHIANATIMU

Aku akan mengkhianatimu, dengan tiga buah apel
yang masih tergantung di pohon itu, karena sepasang
kekasih yang akhirnya pergi, hanya sempat memetik satu.

Aku akan mengkhianatimu, dengan seekor ayam betina
yang terpana, karena ayam jantan itu berkokok menyadarkan
murid Kristus yang bersumpah setia.

Aku akan mengkhianatimu, semenjak sajak hanya
berisi kata-kata cinta dan rindu, sementara kau adalah
duka Sang Bapa dan aku bukan seseorang yang begitu

mudah menggerutu.

(2014)



SORE YANG BERSAHABAT

Tak ada perjamuan teh di sini,
gadis berbaju merah muda itu
duduk dengan kaku. Seorang diri.

Kesepian barangkali anjing penurut
yang ikut sibuk menjamu tamu dengan
juluran lidahnya. Kau tak perlu takut.

Tiga buah gelas bening diletakkan
dan kita merangkai percakapan dari
bunyi sumbat botol yang jatuh. Akan

kita pahami nanti, arti petualangan
dan kepulangan yang tiba-tiba ini.
Seperti menebak yang berderap dan

mendekat pada sore yang bersahabat
ini: jatuh bayangan jauh di punggung,
atau ringkik kuda yang suaranya tepat

seperti masa lalu. Sementara, kita
hanya bisa duduk dan menelisik diri,
membayangkan: ada sebuah hutan tua

dan serombongan makhluk purba berpesta.
Makan dan minum dari tubuh waktu
yang terbuat dari percakapan kita.

Tapi sore ini, aku merasa begitu bahagia;
betapa bahasa yang terhimpun dari
sebuah ruang berwarna kuning tua,

di mana ada sebuah pertemuan, telah
membebaskan dan membiasakan aku
untuk menulis sajak dari istilah-istilah

asing di luar diriku. Istilah-istilah yang
selama ini membelenggu, seperti sebuah
pengertian tentang menunggu arti pulang.

Tak ada perjamuan teh di sini, gadis berbaju
merah muda itu mendekap anjing penurut itu.
Di tangannya segelas air. Sedang aku

merasa, ini sore yang bersahabat untuk
bisa pulang dan mengenang sebuah petualangan.
Dan bercerita semua itu bagi dirimu. Jika kau tak sibuk.

(2014)



Dedy Tri Riyadi tinggal di Jakarta. Giat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

Puisi-puisi Koran Tempo, 2 Maret 2014


Puisi-puisi Dedy Tri Riyadi

Satire dalam Dua Puluh Lima Gram Ceri Asam

Mungkin bosan mandi air garam,
seekor camar membawa dua buah ceri
di paruhnya.

Mungkin terkejut atau heran,
terbanglah tiga ekor kolibri
di dekat mata.

Mungkin cuma sampai enam,
di atas selembar tisu, tangkai dan biji
ceri dilekatkan.

Memilih baju kuning tua,
dengan pita merah di dada,
duduk miring tak menghadap meja.

Memikirkan bakal seperti apa
bunga di jambangan, sementara
tak penuh airnya.

Dua puluh lima gram ceri asam,
disebar begitu saja, di atas meja.
Dunia—setidaknya dua jenis burung

dan satu jenis tanaman,
dan kau yang begitu belia

dirangkum dalam sebuah renung:

dongeng apa yang bisa dimulakan
dari laut dan berakhir pada
sebuah kamar berwarna biru terung.

2013



Sedikit Menjauh dari Riuh

Aku tak akan malu-malu
(semisal mengintip dari antara
dua batang pohon cemara)

tapi tak juga akan bergaya
(membentang lengan, menekuk
tungkai, pura-pura hendak menari)

ketika keriuhan itu dimulai.

Bagiku, menyandarkan punggung
ke batang pohon, menyimpan
lengan di balik punggung,
memasang tampang bingung,
lebih baik daripada menerus murung.

Biarkan saja musik mengalun,
kaki-kaki mengentak (kadang
seolah saling menyepak)
, menyentak
di selingkung telaga (kau tahu,
di sana ada gunung, gerumbul
pepohonan hijau tua-hijau muda,
tanah cokelat dengan bayang-bayang
orang lalu lalang, dan air danau
yang beriak pelan seperti dengkur
pemabuk pada gelas ke lima)
.

Aku tak akan malu-malu menyatakan
(meski bicara lirih soal topi yang lucu,
baju kedodoran, dan kumis yang
bersambung jambang)
betapa keliru
menyatukan bunyi getar senar sitar
dengan gitar, dan kegaduhan yang
ditimbulkan para penari yang berdiri
dan diam.

Karena dengan sedikit menjauh
dari riuh, aku mendengar begitu
jernih kecipak di muka telaga,
daun-daun bersinggungan dengan
angin, juga suara kaki pendaki
gunung yang tiba-tiba limbung.

Dan juga bagiku, memasang tampang
bingung, tak mengurangi kewaspadaan
telinga mendengar bunyi senar
yang putus.

2013



Lagu Pelaut

Dia seperti tidur kucing di rerumputan,
seperti buku yang disadur dengan teramat pelan.
Ada yang mengambang serupa pecah bunga kapas,
sedang hatiku bimbang menimbang laku yang pantas.

Dia seperti jilat lidah ombak di cangkang kepiting,
seperti tepat kadar basah mekar biji kemuning.
Ada yang bertunas, mengeras, dan tumbuh pada kenangan,
meski ingatan tentang perahu, lunas, sauh tertinggal di pelabuhan.

Dia ringkik kuda memecah titik embun pada takik daun jarak,
geliat renik dalam setangkup air hujan yang hampir-hampir tak tampak.
Hatiku geming stalagmit di dasar gua, persoalan yang rumit dan tak terduga.

Dia juga angin yang terempas di kibar bendera,
aroma dedaunan beringin ketika hampir senja.
Bagaimana aku harus lupa pada hal-hal sederhana?
Seperti ingin mengingat apa yang kutinggalkan
dan kutanggalkan pada tahun-tahun yang lama.

Dari kemudi sampai buritan, wangi todak dan anggur masam,
dia tempias ombak dan pekik kormoran.
Memendam kecemburuan dalam palka, ada yang harus
kutanyakan dengan tulus kepadanya: “Bukit dan rahasia
pohon-pohon tinggi dan lurus, di celah mana
matahari lebih cerah bercahaya?”

Karena di laut, di dekap erat maut,
pucuk-pucuk ombak tak pernah ada gulita.

2014



Taksonomi

Kau bicara bahasa bunga. Kuntum, mekar, dan layu, lalu gugur.
Aku memuja dengan kata dari akar. Derita tanah, harum rabuk,
basah serasah dan jeritan: Air! Air! Air!

Kau bayangkan ketabahan dahan. Yang ketika daun dan bunga gugur,
berusaha sabar dan tak tercabar berita angin. Akan kulukiskan batu yang rengkah.
Jauh dari segala riuh. Kesepian itu. Yang menjemputmu dari rahim bumi ini.
Agar kau kembali.

Tapi kau pohon. Doa yang dimohon berbukit-bukit sakit.
Kepasrahanku jaringan kayu dan tapis. Langkah malu-malu juga tangis.

2014



Sepasang Patung

Kau boleh menyesal pada kata-kata
yang gagal dalam sajak ini. Batu gompal
bahan sepasang patung.

Mereka berhadapan, seolah menyoal
letusan gunung, atau petir sambung
menyambung. Seperti kita berbincang

tentang burung, juga hal yang mengipasi
sebuah hubungan jadi dingin. Dan kita
dicekam diam, meski berdiri berhadapan.

Kau boleh menggugat kata-kata
yang berloncatan dalam sajak ini. Batu
dan lava dari letusan gunung.

Kita sepasang patung dalam sajak ini,
jika ada petir menyambar atau tahi
burung jatuh, mana boleh kita merasa

menyesal sepanjang kita berdiri
berhadapan.

2013





Dedy Tri Riyadi giat di lingkaran Sastra Rabu Malam, Jakarta. Buku puisinya, Gelembung (2011).