Category Archives: Fariq Alfaruqi

Puisi-puisi Koran Tempo, 8 Juni 2014


Puisi-puisi Fariq Alfaruqi

Lumut Suliki Suto

—untuk Esha Tegar Putra

Aku maharkan kepadamu sebiji batu setali ikatnya
segala khasiat yang terkandung boleh kau bawa
kadamnya simpan dalam dada, kilaunya peram dalam kepala.

Ini batu, kehendak tak berlaku, dicari tak bertemu.

Kau gali itu kuburan para toke Cina
kau urai keranjang si Kumango pedagang segala ada
tak bakal bersua yang hijaunya berkilau bagai sisik ular naga
tak akan ada yang lumutnya berjalin halus seperti benang sutra.

Sebab, kabarnya, ia ditarik dari pusar bumi
setelah bertarak sejumlah purnama di gunung sunyi
sebilang kali mengalahkan seekor harimau jadi-jadi seorang diri.
Kononnya pula, ia hanya diturunkan menurut runut ranji
sekali jatuh tak bakal kembali.

Pasangkan di jari manis menghadap telapakmu
sembunyikan matanya dari kilat siasat dangkal matamu.

Suaikan di kelingking yang paling jauh dari ampu
supaya kau tahu, yang besar tak melanda
panjang tak menjangkau, kecil tak menepi.

Usaplah sesekali dengan ujung jari
ketika suhu tubuh paling tinggi
agar yang baik dianjungkannya ke pucuk
yang buruk dibenamkannya jauh ke pangkal.

Kandangpati, 2014



Mentika Batu

“Ini batu mirah delima dari sebuah pulau di Afrika
Madagaskar namanya. Diseberangkan berbingkah-bingkah
ke daratan Eropa sana. Kau tahu, kabarnya ia
bertengger pada pucuk mahkota raja
berjejer di pangkal pedang para kesatria.
Kalau berdesir hatimu dibikinnya
ikat ia dengan emas suasa.”

Engku, aku ke pasar raya tidak mencari cindera mata
untuk teman yang datang dari pulau manca.
Orang kata, di sini ada batu mustika
yang mampu membikin pemakai tahan peluru,
pecahan kaca, tinggam segala tuba.
Batu yang diwariskan dari ninik sampai ke cucu
berapa pun maharnya aku tawar sampai bertemu.

Sekalian itu batu bakal diasapi dengan kemenyan
bakal disisipi dengan sehelai rambut perawan.

“Untuk yang muda dan perjaka
betapa pasnya anggur ungu sayat prisma di jari manis itu
permata yang dipakai pangeran-pangeran dari Britania
di siang hari birunya teduh membikin jantung Pajatu lumpuh
di malam hari cahayanya membayang seperti anggrek ditimpa purnama.
Jika berkecipak air liurmu menatapnya
antar ia ke pandai perak paling mahir di ini kota.”

Tapi yang aku mau, engku, batu yang tersisip di antara
batu-batu yang diangkut truk pasir untuk pondasi rumahmu
yang hitam kadam tak tembus cahaya
punya retakan dari kulit sampai intinya
akan aku asah sebesar biji sempoa cina
aku ikat dengan leburan besi timah tembaga.

Di kuburan leluhurku, aku tanam ia berminggu-minggu
direndam tujuh kali purnama bersama limpa, hati, dan empedu.

“Kau gila, Cucu, darahmu menggelegak sampai ke puncak kepala
pakai zamrud hijau berkilau kebanggaan bangsawan Rusia
untuk meredam panas yang memeram di dada.
Ini batu, berapa ia punya harga, bayar saja seadanya.”

Kandangpati, 2014



Limau Manis Ujung Tanjung

Boleh kau sigi ceruk-ceruk dalam di Ratnapura dan Elahera
agar kau mengerti, bianglala hanya sekadar paduan sejumlah warna
yang tak habis dihitung dengan jari. Dan kau beroleh paham
ternyata biru tak selalu menyepi seperti laut atau lazuardi.

Tapi hanya di sini, kau temukan seteru matahari
terjaga di pagi hari, bertebaran di pesisir paling selatan dari kota ini.
Seakan beribu-ribu kunang-kunang lahir dari segala bongkahan batu.

Di hitam kadam kecubung ia membayang
di pangkal-pucuk anggur ia melayang
di opal putih susu ia benderang.

Tapi di sini, tak ada yang bisa kau bawa ketika matahari masih tinggi
ketika orang-orang masih mengayuh nasib baik di ombak yang seadanya
cobalah, kau hanya bakal menjunjung padi hampa
dengan cara baru, kau hanya akan mengulang kisah lama.
Seperti sepasukan tentara Iskandariah yang tak tahu
bahwa emas yang mereka ungguk di dalam saku telah jadi batu.

Datanglah di malam setengah buta
jangan percaya pada bulan penuh purnama
sebab dalam setiap benderang mata
bayangan memilih jadi kembarannya
ragu menyelinap ke dalam ruang cahaya.
Ambil saja yang paling dekat dari jangkauan
bawa batu pertama yang tersentuh oleh tangan.

Datanglah dengan perasaan paling bergebalau
ikuti irama ombak yang bersibantun risau.
Sebab pada gelagat gaduh ia akan lintuh
pada getar rusuh akan kau temukan
yang pas di mata, kena di hati.

Kandangpati, 2014



Kuda Bendi Pelerai Hati

Kalau ada lebuh yang panjang
bolehlah aku menumpang bendi
melempungkan jalan yang dikatai orang sepi
disesaki lengang tak kepalang
berkerikil tajam dan menghunjam.
Sekalian rampung juga perantauan
yang sebentang tali jemuran ini.

Izinkan kaki langit aku pandangi
dari sela umbul-umbul meriahmu
di antara ukiran ikan bada mudik itu.
Biarkan ketukan roda kayu tak berbentuk tak berupa
melonggarkan luka yang menggumpal di dada.

Antar aku ke tempat di mana lenguh jawi
menggetarkan periuk kuali
sebelum pembantaian.
Di mana orang-orang
bersitegang urat leher ketika pukat merapat di bibir dermaga.
Segala tempat di mana suara-suara berhimpitan serupa
paruh elang setengah terbuka.

Antar aku ke sana.

Sebelum jalan yang dikatai orang puisi
mengutukku menjadi lelaki peratap penghiba.

Kandangpati, 2014





Fariq Alfaruqi lahir di Padang, 30 Mei 1991. Sedang belajar di jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang. Giat di Ranah Teater dan Komunitas Kandangpati.

Puisi-puisi Koran Tempo, 16 Februari 2014


Puisi Fariq Alfaruqi

Pengintai Layang-layang Putus

Berkali aku bilang
sebelum ke tanah lapang
belajarlah dulu membuat layang-layang.
Menelitikan mata untuk gelung ular hijau
di pangkal rimbun bambu,
menamatkan segaruk gatal
yang ditebar oleh miang.
Dan isyarat luka, bukankah membilah
pada tajam sembilu?

Kemudian pahami bagaimana itu
kisah diraut sebatang bambu
yang menahun rendam menyimpan basah
agar tak kenal dengan pecah.
Kasih dikebat benang sehelai
digulung menggumpal kusut diurai
panjang tak kurang pendek ia sampai.

Tapi kau masih saja berkilah
berkeras menampik segala tuah:

“Aku ingin layang-layang jadi
dilepas ia jauh digantung ia tinggi
lihai berlenggang di angin tenang.
pandai memikat jantung hati.”

Sudah berkali aku ingatkan
layang-layang itu setitik, langit itu sebelanga.
Jangan percaya permainan mata
jika benang putus pangkal
jika angin berkepusu binal
ke sebelah mana arah bakal kau terka.

Tapi kau memang tak tahu diuntung
di bawah rindang pohon duduk mencangkung
sambil bersiul dan bersenandung:

“Biar ke sebalik bukit penuh hantu
tersangkut di pucuk ambacang
akan aku sibak semak berduri
akan aku kincah luluk kotoran sapi
asal dapat yang itu jua.”

Kandangpati, 2013-2014



Harimau Karengkang

“Dengan batu-batu basah di punggung lembah, aku asah ini kuku.
Dari tetumbuhan yang rapat, terlatih geramanku
agar menyelinap ke telingamu, ke liang mimpi-mimpi burukmu.
Mataku, belangku, kau tahu, bakal menyala di gelap matamu.
Kemudian tanyakanlah pada koyak daging rusa itu
betapa taring lebih menghunjam dari anak panah manapun
lebih merobek dibanding tajam angin melesatkan peluru.”

Jangan kau kira kami tak tahu
di sepanjang jalur hutan masa lalu telah kau tebar jejakmu.
agar kijang, rusa, babi, segala yang bergigi tumpul itu
menepi demi memberikan jalan untuk laparmu
ketika kami, para pengintai durian yang lebih mencintai suluh
dibanding matamu yang mengintai di rimbun buluh,
mesti rela turun hanya menjinjing yang cimpua
sekadar pereda dendam bagi serakahmu.

Tapi kini, yang termakan tak semudah itu dimuntahkan.
Jangan kau bilang mundurmu ke sebalik pohon adalah gertak lawas
selangkah kalah untuk menang sekian jumlah.

Silahkan kau hadang kami di pintu rimba ini.
Di belakangmu hutan basah masa lalu mengaum.
Petilasanmu telah ranum serupa tebal daging buah durian
yang kau kubak tanpa jejak.
Tapi di hadapanmu, kami sedia menandingimu
mencuri siasatmu
memangkas gerak langkahmu.

Sebab harimau dalam perut kami telah mengajarkan
yang sejati memilih diam untuk melesat bagai api
yang tak bergigi mengaum demi menunjukkan diri.

“Aku Harimau Campa, jangan kau kira aku lahir dari kaba.
Jangan kau sangka aku bisa kau kunci dengan peribahasa.”

Kandangpati, 2014





Fariq Alfaruqi lahir di Padang, 30 Mei 1991. Sedang belajar di Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang. Giat di Ranah Teater dan Komunitas Kandangpati.