Category Archives: Gus tf

Puisi-puisi Koran Tempo, 1 Desember 2013


Puisi-puisi Gus tf

Susi Getar

1. Sesudah Tahun-tahun

bibir, oh, getir. Mata, oh, luka. Dada, oh—
Tapi tidak, saat kau ambil diam dari gerak.
Getar jadi Susi, Susi jadi kami. “Menari.”

Atom menari. Dari sehelai bulu di kaki
kucing, ke bulu lain di ekor kelinci. Dari
sebuah sel di gelambir leher sapi, ke sel lain
di lipat gelogoh lambung kami: materi. Ah,

atom menari. “Mencari.” Atom mencari.

Tetapi tidak. Sesudah tahun-tahun di luar—
masehi, kini kami, si semesta getar ini, telah tak
lagi mencari. Sesudah igau, pedih imbau, kami ini,
Susi ini, sudah bukan lagi frekuensi. Bibir, oh—

getir. Mata, oh, luka. Dada, oh, fana, “Katanya.”

2. Nama Kosmik

Maka: “Baik, berilah kami nama kosmik,” agar
bisa kami baca semua bahasa. Getar ini, semesta
ini, telah melepaskan kami dari tinggi. Dan kini,
lihatlah, Susi menjauh, memberikan cahaya

kepada musuh. “Kami rendah. Kami rendah,” nama
purba untuk tanah; nama kosmik untuk berserah. Ah,
Susi, wujud fana dalam getar ini, engkau rasakah
kata-kata mati, hilang arti, dari mulut materi?

Maka: “Baik, jangan lihat lagi kami dari naik.” Tinggi
rendah, atas-bawah, kekal musnah dalam kamus kosmik.
Engkau menari, engkau mencari, sia-sia menari sia-sia
mencari. Engkau menari, engkau mencari, sia-sia

berkata sia-sia bicara. Getar ini, semesta ini, ah Susi,
engkau rasakah? Selengking apa pun kau bicara segelas
apa pun kau berkata, jika bukan nama kosmik, maka
bagi mereka: semua cuma kosong—hampa belaka

3. Getar

begitulah semua datang padamu—bentuk tanpa rupa, ruang
tanpa waktu bahasa tanpa kata. Semua lenyap dalam getar semua
dikenali dengan denyar. Bukan quantum, Susi, yang di duniamu
menarikan sunyi; atom mengerang, merintih lirih dalam materi.

begitulah getar lalu mengangkatmu: bukan naik, tapi meniup
kelam jadi terang melucut galau dari bimbang menyingkap riang
dari erang. Semua alamat semua tujuan, segala tempat yang dulu
tak henti datang, kini kaukenali sebagai jalan bernama pulang.

begitulah getar jadi dirimu, Susi—begitulah getar itu akhirnya
sampai padamu. Dan hari itu: wajah-wajah menunduk, kalut-gundah;
lelah, dibakar api menyala*. Saat kutub mengarah ke matahari,
siang akan tetap siang dan malam akan tetap malam**. Maka apa

yang disebut quantum, akan dikenali dari pohon bernama zaqqum.

2008

* Dari QS 88:1 s/d 4.
** Dari QS 28:71 dan 72.



Susi dari Oryana

Garis-garis itu pun lalu kautarik: mengulur gema, mengirim peta,
suara-suara yang dipetik dari dawai kosmik. Ada sesuatu di luar sana,
di luar langit-langit di luar-luar angkasa, sudah sejak lama menunggu
semacam tanda. Maka, suatu hari, seperti sudah sejak lama kau

percaya, ia pun turun: Oryana, putri dengan empat jari, yang sela
sela jarinya berselaput seperti jari angsa. “Susi, itukah ia, empat jari
yang dulu pernah kaupetakan dari empat gema?” Dan gelombang itu
pun lalu kaurenda: epsilon, teta, dan alpha—cikal semua cakra.

Oryana, Si Ibu Agung, segera mencabut apa yang kaupunya: mata,
lidah, kulit, hidung, telinga. Semua akan diberikan kepada tujuh puluh anak
yang ia lahir-bumikan di tiga puluh tiga gunung di tiga puluh tujuh
palung. Dan selaput, yang membuat empat jari jadi berpaut, kau

jelmakan jadi kabut, selubung masa lalu yang setiap mengulur gema
setiap mengirim peta tidak tertangkap oleh sesiapa. Garis-garis apakah
yang bisa terbaca yang bisa tertanda hanya oleh indra? “Engkau sendiri
yang membatasi segala hanya pada atom, hanya pada materi,” geribat

getar Susi. Dan selalu, selalu pula kaujawab dengan hanya: Lain kali.

2009



Susi dari Cashinava

Apa yang dulu nyata, kini menjadi dongeng kuno,
apa yang dulu dongeng kuno, kini menjadi mitologi

Si pemegang kunci yang mengenalkan diri sebagai Damis, tak pernah
kautemui di Nineveh. Nineveh yang dulu kaukenal sebagai kota, pun kini
cuma tinggal sebuah sumur tua. Tak ada timba. Ada seekor ular menjaga;
ular yang setiap kaubutuh air dan berhasil menimba, setiap kali itu pula
akan berganti kulitnya: dari putih ke hijau, hijau ke biru, biru ke jingga.
Dan, setiap kembali ke putih, kau segera tahu wujud aslinya: Heracles.

Heracles, sang perkasa itu? Kau tahu, dua belas tugas Heracles sudah
selesai dalam dua belas dongeng lalu. Sepuluh dongeng lenyap, sembunyi,
dan dua sisanya menjelma mitologi. Dan engkaulah, Apollonius, yang kini
menanggung mitologi itu; yang menyebabkan engkau lahir di Kapadosia,
menjejak bumi Tyana, harus berjalan jauh ke India, mewarisi peta yang
terbuat dari gema; penunjuk jalan ke Kota Para Dewa. Apakau engkau

tetap percaya—kota itu ada? Lihat ke belakang, jalan-jalan lenyap bagai
mencair, dusun-dusun bergerak bagai mengalir. Rasakan ubun mengepul,
menggigil, membubung naik digulung gema. Peta itu. Apakah itu memang
peta yang sama, yang ditemukan Larchas, seperti juga peta di La Filouziere
dan di Chancal de Mahoma? Peta cakrawala. Kaubayangkan dentuman itu:
awan-awan gas es dan debu Kaubayangkan sesuatu sebelum dentum itu:
dari manakah awan-awan gas, es, dan debu? Rasakan, seratmu bergetar.

Apa yang dulu dongeng kuno, kini menjadi mitologi,
apa yang dulu mitologi, kini bergetar di dekapan Susi

Si penjaga gerbang yang minta dipanggil Nyaya (kau pun kini tahu dari
mana Brahmana mendapatkan sebuah nama), heran, takjub, bagaimana kau
bisa melewati Nineveh. Ada titian api, singa bertubuh bara, naga berkepala
sembilan. Kau pun lalu mengerti: si penjaga masih tertahan dalam dongeng
belum menjelma mitologi. Dia tentu tak kenal Damis, ular-Heracles jalan
mencair dusun mengalir. Bagaimana kau harus bicara—tentang Si Kota.

Kau pun kini ragu, benarkah ini gerbang itu? Engkau malu, “Apollonius,
inilah catatan itu: akashic, tempat kaubisa kembali melihat hidupmu.” Aduh,
bukan. Kauhanya ingin melihat masa (dua juta tahun manusia); engkau hanya
ingin melihat badan (yang tak bisa dipenjara Domitian). “Apollonius, tahan
hasratmu saat tubuh berdenyar; tahan nafsumu saat serat bergetar.” Ah aduh,
bukan itu. Engkau hanya Si Pewaris Peta; engkau hanya satu dari dua sisa

mitologi Para Dewa—benarkah gerbangnya? Engkau bayangkan Damis si
pemegang kunci yang tak kaujumpa, engkau bayangkan si penjaga masih dalam
dongeng bersama Nyaya. Ah, benarkah ini gerbangnya? “Ayo cepat, Apollonius.
Kota ini menyimpan satu lagi mitologi sisa. Sebelum sepuluh dongeng Heracles
menggigil, menyembul keluar dari sembunyinya.” Engkau ragu. Engkau malu.
“Ayo, Apollonius. Sebelum kota membubung, naik ke langit. Sebelum Zeus
meraung, memberi pedih ke sakit. Cepat.” Ganti kulitmu! Ganti kulitmu!

2010



Susi dari Shandiar

Kaubaca, semua kembali ke hari yang sama. Saat Susi berpendar
di langit gua Shandiar. Empat puluh lima ribu tahunmu, pahat-presisi
di batu-batu kitab Tumer. Berhala Besar itu akhirnya leleh, cair, dan
lumer. “Biarkan hasrat, seratmu itu, curam dan terjal. Biarkan serat,
dagingmu itu, duri dan aral.” Semua kembali gema, sebelum getar.

Kaudengar, pahat itu lengking, nyaring pilu batu. Raung-sedan,
hari pemisahan.* Dua juta tahunku—empat puluh lima ribu tahunmu,
mengerut surut di Baradostian. Seserat mengendap, dedaging tertahan,
ruang-waktu pudur di Barda Balka. “Wahai, tangga spiral berputar itu,
yang dulu kaubawa dari Sumeria, pernahkah sudah sampai ke Inca?”

Kaucatat, Susi berdenyar: menggenang, malih-getar dalam terang.

2010

* Dari QS 37:21





Gus tf lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965. Buku puisinya yang telah terbit: Sangkar Daging (1997), Daging Akar (2005), dan Akar Berpilin (2009).