Category Archives: Mardi Luhung

Puisi-puisi Koran Tempo, 4 Mei 2014


Puisi-puisi Mardi Luhung

Adham

Dengan apa aku memahami dirimu. Yang selalu datang padaku tanpa menanyakan apakah hatiku miring atau lurus? Apakah mataku terpejam atau terbuka seperti ikan dalam telaga? Dan lewat rahasia, yang hanya dipahami mekarnya kelopak, dirimu pun menarik keseluruhanku. Seperti kekasih yang menarik hari Minggu untuk pertemuannya. Hari Minggu yang cerah dan mendebarkan. Tapi, apakah dirimu tahu jika aku kerap melengos dari dirimu? Juga tak bosan menghapusi sebagian dirimu diam-diam? Senyuman dirimu begitu manis. Begitu sedap. Senyuman yang terpampang setiap aku membuka pintu di pagi hari. Senyuman yang menyapa: “Bagaimana tidurmu semalam, nyenyakkah?” Dan aku tahu dirimu juga tak pernah pergi dari gerakanku. Dengan riang dirimu terbangkan apa saja yang ada untuk melindungiku. Apa-apa yang memapak dan menyalipku dirimu atur. Apa-apa yang aku makan pun dirimu perhitungkan. Dan terpisahlah antara racun dan obat. Serat dan tepung. Juga air dan kelenjar untukku. Oh, apakah ini yang disebut hubungan yang bertepuk-sebelah-tangan? Hubungan yang selalu membuat dirimu aku abaikan tapi tetap saja datang. Singa-singa mengaum pasti tahu apa yang akan disergapnya. Tawon-tawon mendengung juga pasti tahu mana kembang dan sebaliknya. Tapi, kenapa dirimu padaku seperti tak ingin menggunakan hikmah dari keduanya? Dengan apa, dengan apa aku memahami dirimu.

(Gresik, 2014)



Tubuh Rumahku

Rumahku di malam hari. Lampu depannya remang. Dua ekor tikus gemuk hilir-mudik. Seperti dua ekor kegelapan yang mencari terang. Dua ekor kegelapan yang mistis. Yang katamu begitu licin. Tak tertebak. Dan di sudut halaman, dekat pohon tomat, pepaya dan lombok yang masih muda, seekor kadal termangu. Matanya bulat dengan bintik hijau. Sekali berkilat. Sekali yang lain lenyap. Ahai, ada makhluk kecil yang menunggang punggung kadal itu. Makhluk kecil dengan sungut kedap-kedip? Lalu, pintu rumahku. Pintu tipe 21. Maka masuk, masuklah. Masuklah ke ruang tengah. Ke ruang mesin jahit, lemarin kain, mal baju dan buku-buku yang bertumpuk. Buku merah, biru, kiri, kanan. Buku tebal, tipis, lonjong, persegi. Dan juga buku (yang ketika kau buka), membentangkan kekuasaan laut. Juga pulau-pulaunya, pelancong-pelancongnya dan kapal-kapalnya. Memang, di buku yang satu itulah, aku kerap berenang dan berselancar. Sambil tertawa dan menggayuti angkasa. Tanpa lelah. Tanpa jeda. Lalu tanyamu: “Mana meja dan kursinya?” ketika tahu rumahku tak bermeja, tak berkursi. “Bagaimana aku bisa duduk santai di sini?” sambungmu. Aku tersenyum. Lalu dengan sekali sentak, aku tarik dirimu ke pojok. Pojok sempit. Dan kau pun melihat sisa obat-nyamuk-bakar dan korek-api-cres. Serta sebaris distikon berhuruf tegak: “Hidup dalam kesempitan. Hidup dalam ketakterhimpitan!” Dan kau pun merasa, aku memang si tak terduga. Si tak terduga yang kerap mengelupaskan kulit luarnya di hari-hari tertentu. Si tak terduga, yang selalu hadir dalam kesedia-kalaannya. Tengoklah, bayanganmu di lantai bergerak sendiri. Sebentar lagi, pasti membesar dan memeluk tubuh rumahku.

(Gresik, 2014)





Mardi Luhung tinggal di Gresik. Buku puisinya, Buwun (2010), beroleh Khatulistiwa Literary Award.

Puisi-puisi Koran Tempo, 13 Oktober 2013


Puisi-puisi Mardi Luhung

Nyonya Rumah

Barangkali dia ada di dapur. Meracik bumbu. Meniris kangkung. Menggoreng telur. Dan sesekali membetulkan kompor gas. Agar apinya sedang. Tidak rewel. Apalagi ngadat.

Barangkali dia merendam cucian. Di dalam bak biru. Memilah yang putih dan berwarna. Dan tak lupa sedikit ngomel: “Tentang aku dan anak-anak yang tak bosan ganti baju.”

Barangkali dia membentangkan kain jahitan. Memasang mal.
Menghitung lekuk untuk leher dan ketiak. Dan berangan: “Betapa elok, jika kerlip kepik di kebun bisa jadi pengganti kancing.”

Barangkali dia mencari di mana sapu dan kemoceng berada.
Seperti si tersesat yang mencari arah balik. Sebab, merasa, debu dan jejaring laba-laba selalu menangkup sembrono di pojok-pojok.

Barangkali dia menatap almanak. Menandai hari besar, juga hari kecil. Dan tagihan mana yang sebentar lagi tiba, sebentar lagi lewat. Terus kapan mesti berhemat. Kapan lagi sebaliknya.

Barangkali dia ketika malam terjaga. Meneliti pintu, jendela dan
kran air yang masih renggang. Dan ketika sampai di kamar anak-anak, pun menghitung jumlahnya. Jangan-jangan belum genap.

Barangkali dia yang selama musim hujan mengguyur, sigap menadahkan ember di bawah genting yang bocor. Bunyinya cik-cik-cik. Dan saat itulah aku ingat:

Jika dulu, dia punya sepasang sayap tipis di punggung. Dan kini, sayap itu dilipat rapi di kolong ranjang. Sayap yang tabah. Meski rindu pada lembah, matahari dan debar ricik sungainya.

(Gresik, 2013)



Tangga

Lelaki belia itu tidur di kursi. Di lantai, puisi-puisi saling telungkup.
Dan lima biji pikiran seperti menanti. Menanti di pagar-bata disemen rapat. Ya, di tengah hujan yang turun, aku dengar ada yang melintas. Suaranya lembut tapi murung. Seperti, seperti, berkebat menuju utara.

Lalu, bapak yang tak mati-mati mengetuk pintu. Di atas kepalanya ada bulatan terang. Sedang di sampingnya, siapa yang selalu mencatati geraknya itu? Kami: lelaki belia, aku, puisi, lima biji pikiran, pelintas, bapak dan pencatat saling tak bertegur. Kami asyik dengan jalur-jalur
yang memisah.

Dan di luar semuanya ini: mengapa selalu ada yang bertanya
tentang batas? Tentang Eden, kesenangan dan bualan yang seperti mengambang? Kami memang terlanjur tergoda. Dan kami menyukainya. Seperti saat kami bugil di muka pasar. Dan semua penawar yang ada saling melengos.

Seperti saling mencoba untuk menghapus keadaan kami.
Lalu menyergah: “Kami tak mengintip kalian. Kami cuma merasa, ada jalan lain mencapai sana.” Seperti tangga yang terus terulur. Yang bahannya dari apa yang tak mempan kami beli. Dan bermekaran di bulu roma!

(Gresik, 2013)





Mardi Luhung tinggal di Gresik. Buku puisinya Buwun (2010) mendapatkan Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerita pendeknya, Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011).