Category Archives: Mugya Syahreza Santosa

Puisi-puisi Koran Tempo, 4 Januari 2015


Puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa

MADU PUISI

Lebah-lebah yang terbang dari jantungmu,
kini mencari sari-sari kata
yang kehilangan makna.
Sebab angin telah mengaburkan tafsir
dan mematahkan keberanian
dalam menyusun sepi jadi rima tanggung ini.

Lidah diksiku
hanya sebatas menjilati rasa perih
di masa lalu.

Alangkah manis yang menetes dari puisi
sebatas umpama,
tak akan ke mana bisa pergi
selain berhenti dan bunuh diri
pada akhir tanda bacanya.

Kadang aku cecap madu dalam puisi
untuk meruntuhkan keraguanku pada waktu.
Jadi untuk apalagi
aku berguru pada bunga luka?
Selain memanipulasi diri jadi duri
bersiap membutakan mata
yang mengelupas-paksa dirinya.

2014



TEROMPET

Mulutnya hanyalah sisa apa yang tak pernah diucapkanmu,
sedangkan tubuhnya tinggal batang suara
yang bergetar, sebelum menit jadi jam terkubur dalam-dalam
dan hari semakin terasa terjal menjauhi kerumunan orang di jalanan.

2014



MATA KAIL

Untuk menangkap ikan yang berenang-renang bebas
di matamu,
aku butuh mata kail setajam cemburu
menjerat pandang tanpa selembar benang.

Untuk memanen ikan yang berlompatan riang
dari setiap tatapanmu,
aku memasang umpan paling pandai berperan
seperti keniscayaan agama pada orang-orang bebal.

2014



RABUN JAUH

Ia adalah nasab dari pura-pura buta
akibat terlalu lama mencintai yang telanjur dekat.

Ia murid sekaligus juga guru bagi orang-orang
yang mudah ditinggalkan karena enggan melupakan.

Cobalah kau berdiri di kejauhannya
maka engkau hanyalah tinggal lelehan lilin
yang sedikit melukai kerjap mata.

2014





Mugya Syahreza Santosa lahir 3 Mei 1987 di Cianjur. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini bermukim di Bandung.

Puisi-puisi Koran Tempo, 15 Juni 2014


Puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa

Mesin Tik

Sebenarnya ia tak memiliki wajah yang pasti.
Apalagi hanya dengan selembar kertas terkulum mulutnya
yang menjadi bekal berjaga malam ini.

Ia telah berjanji mengantar setiap kata yang pergi
meski mungin kembali pulang padanya
sekadar tinggal selongsong sepi.

Juga di kedua telinganya,
gulungan tinta itu mulai berhenti bergerak.
Sungguh sabarnya hanya sebatas knop
yang menunggu ke kanan atau ke kiri.

Saat jemari-jemari mengetuk keras tutsnya
dan ujung penanya harus menatah huruf.
Ia enggan terkesima, apalagi untuk sebuah puisi.
Hingga suara ting membuatnya siaga
pada ujung perjalanan sesaatnya
yang mulai terasa kekal di batas sepi sendiri.

2014



Cangkir Sumbing

Ia heran mengapa tak ada lagi bibir
yang mau mengecup tepiannya.

Ia telah lama mengabdi
tanpa menolak panas atau dingin air
yang akan menghuni tubuhnya.
Manis atau tawar,
berwarna atau bening.

Tak memperkenankan pada siapa
ia akan dilekatkan menuju mulutnya.
Bergincu atau polos kehitam-hitaman
tak ada beda baginya.

Basa-basi yang menghabiskannya
atau dahaga yang menandaskannya.

Tapi sungguh tersisih di sudut ruang
remang, bukan yang ia bayangkan
pula oleh sang penciptanya.
Tak ada jari yang bergairah
gemas mencengkeram cupingnya.

Dan retakan pada dirinya, mungkin
awal dari titisan ia kembali
ke haribaannya pemujanya, kelak.

2014





Mugya Syahreza Santosa, lahir 3 Mei 1987 di Cianjur, buku puisinya adalah Hikayat Pemanen Kentang (2011).