Category Archives: Yang Ke

Puisi-puisi Koran Tempo, 4 Agustus 2013


Puisi-puisi Yang Ke

Di Dongguan Bersua Sejumput Sawah

Di celah jari kaki pabrik
padi yang cebol
mati-matian memeluk sejumput tanah terakhir

Jangkar akarnya
lelah menganga

Tangan yang marah dari dalam lumpur
ingin mengais keluar kicau burung suara serangga

Dari tengah hamparan sinar surya yang benderang
kulihat daun padi
membusungkan punggung

Satu demi satu batang bunga padi tumbuh meninggi
butir padi penuh bubur senyum di tengah angin musim panas
berbicara dengan diriku

Dari dalam lautan samudra yang bising dan resah
aku pilin-keringkan diri seketika
seperti sepotong putih kemeja

Kemarin tak pernah terpikir olehku
Di Dongguan
aku ternyata bersua sejumput sawah
Bunga padi hijau kekuningan
terus bergoyang di antara
sekejap gembira dan duka



Rakyat

Para buruh yang menagih gaji itu. 148 pasang telapak tangan cacat
yang menjulur keluar dari tambang batu bara Daping itu.
Li Aiye yang menjual darah tertular AIDS.
Jomblo yang menggembala domba di bukit tanah kuning.
Wanita panjang mulut yang mencolek air liur menghitung uang.
Gadis salon, pekerja sex tak berlisensi.
Pedagang kecil yang bergerilya melawan satgas pemda.
Juragan kecil yang butuh bersauna.

Mereka pekerja kantor yang bersepeda.
Mereka yang keluyuran tak punya kerja.
Mereka telanjangan di rumah bar. Kakek tua yang
nyeruput teh sembari menggoda burung.
Kaum cendekia yang membuat orang pusing tujuh keliling.
Pemabuk, penjudi, tukang angkut
penjual, petani, guru, tentara
anak juragan dan pembesar, pengemis
dokter, sekretaris (menangkap gula-gula)
yang baunya membubung itu
juga badut di kantor atau
para pemeran pembantu.

Dari jalan raya Chang’an hingga bulevar Guangzhou
musim dingin ini aku belum berjumpa dengan “Rakyat”
Hanya melihat banyak tubuh yang bicara dengan lirih dan hina
setiap hari duduk di angkutan umum
saling mencuri hangat.
Seperti uang receh yang kotor
dan penggunanya—berkerut dahi—
menyodorkan mereka ke—Masyarakat.



Perjalanan Tak Berujung

Pesawat terbang adalah burung hari ini, adalah sebuah sepatu
adalah sebuah tandu puspa yang datang dari angkasa
Dari kota N ke kota G, tiada lagi kejauhan
Yang dibilang hidup yang panjang, senantiasa
oh, seperti gaun melorot turun betapa singkatnya

Saat kau menghambur keluar dari layar monitor aula kedatangan
tak melihat CCTV yang mengintai di kegelapan
Kulihat wajahmu seperti salju muncul telanjang di tengah perbukitan
seperti belum lama ini aku melihat punggungmu sirna dari gerbang pemeriksaan
seolah-olah sekali memutar badan sudah kembali ke sini
Dini hari di depan lembar cermin kau bersisir berias
Selanjutnya sering-sering mengulang gerakan ini
“Sepertinya aku terus berada di sini, hanya meninggalkan
permukaan tanah dan kembali ke permukaan bumi.”

Kamar baru kepiting yang mondok tak menyalakan lampu
Gaun terusan yang punggungnya rapat tertutup seperti
dua daun pintu perlahan dibuka, membuat dirimu
seperti rebung yang keluar terkelupas
“Seperti apel di musim gugur.”
Yang menyambung kemarin dan hari ini, kenangan dan kenyataan
adalah sepotong ritsleting yang sempit

Hari kedua, kembali berpentas
versi kontemporer anekdot tua, kura-kura dan kelinci berlomba
siapa di antara kita yang lebih dulu mencapai tempat tujuan
Saat kendaraan umum berat perlahan berjalan
kau bagai lembar kertas putih melayang di atas kepalaku
Pesawat terbang kembali terbang melintasi atap stasiun kereta api yang rendah



Kondisi yang Ke Saat Ini

Di kedai bir menyantap sepiring steik lada hitam
kemudian memanggil taxi, kemudian
melintasi kaki lima yang berwarna-warni
Di selatan yang tak mengenal malam
menyaksikan uang menjalin fiksi cinta dengan gadis tak dikenal
separuh hatinya telah membusuk

Ada kalanya, dari setumpuk tulisan cerdik pandai yang dipanggil polisi
menjulurkan kepala
seperti seekor lalat yang nongkrong di atas sampah



Yang Ke lahir pada 1957 di Guangxi, Tiongkok, sekarang tinggal di Guangzhou. Buku puisinya, antara lain, Mosheng De Shizi Lukou (Perempatan Jalan yang Asing), Shiliu De Huoyan (Bara Api Buah Delima). Buku esainya, antara lain, Shitou Shang De Shishi (Epos di Atas Batu). Ia juga menyunting sejumlah antologi puisi mutakhir Tiongkok. Sajak-sajak di atas diterjemahkan dari Bahasa Tionghoa oleh Zhou Fuyuan.